Minggu, 06 Januari 2013

REFLEKSI Kedelapan 21 DESEMBER 2012



Pada perkuliahan terakhir ini, Profesor Marsigit memaparkan The Iceberg Approach of Learning Pleasure in Junior High School: Teacher Reflect. Sebelumnya ia telah mempresentasikan hal ini pada seminar internasional di Chiang Mei pada tahun 2010 lalu. Pada tingkatan Iceberg ini memperlihatkan tingkatan pembelajaran matematika dimana yang paling tinggi tingkatannya adalah matematika konkret, baru dilanjutkan  model konkret,model formal dan yang terakhir adalah matematika formal. Pada pembelajaran matematika anak diperkenalkan dengan matematika yang lebih real, di mana matematika menjadi nyata dibenak anak, dibawa ke yang lebih kontekstual, dapat di lihat langsung, kemudian tingkat selanjutnya dibawa ke pada model konkret degan memperlihatkan contoh berupa foto atau gambar. baru setelah itu dibawa ke bentuk yang lebih formal, dengan catatan anak sudah mencapai kemampuan formal. 
Hermeneutika dapat digunakan untuk semua dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya untuk filsafat.  ia memiliki unsur dasar lurus dan melingkar. Di mana lurus berarti tidak melakukan hal yag sama karena bergantung pada ruang dan waktu. Sulit dan mudahnya suatu masalah kita pandang sebagai kesadaran, manusia memiliki perbedaan dalam menembus ruang dan waktu. Karena ruang dan waktu berdimensi. kesadaran manusia yang berbeda tiap individu menjadikan perbedaan pula pada sudut pandang seseorang terhadap suatu masalah tersebut. Kesadaran antara astronot dan presiden berbeda karena memiliki ruang dan waktu yang berbeda. Melingkar artinya berinteraksi, antara guru dan murid harus ada interaksi. Hermeneutika terdiri dari yang ada dan mungkin ada. Terdapat aktifitas rutin dalam hermeneutika di mana mengadakan yang mungkin ada, membisakan yang mungkin bisa seperti pengalaman,konsep dan lain-lain.
Saat ini kaum absolutis masih menguasai dunia pendidikan anak-anak, yaitu kaum formal, kaum logicism,Platonism, ilmu-ilmu basic science. Pure mathematics masih banyak menguasai pembelajaran di sekolah. Memang kaum ini sangat penting namun harus tetap bijaksana menempatkan di ruang dan waktunya yang tepat. Bukan malah menempatkan mereka pada anak-anak yang masih menggunakan intuisi dalam pembelajaran. Jika anak telah diajarkan pure mathematics, ini akan berdampak hilangnya intuisi mereka dan hilangnya hati nurani mereka. Mereka bukanlah empty vessel yang dapat kita isi seenaknya saja. Mereka bukanlah objek pembelajaran di mana mereka hanya mendengarkan penjelasan tanpa adanya kesempatan untuk mereka membangun konsep dan melatih proses berpikir mereka. Pure mathematics berbeda dengan matematika di sekolah.
Sebagai calon guru matematika kita harus dapat merebut kembali hak anak untuk menggunakan intuisinya dalam pembelajaran dan mengembangkan pembelajaran inovatif yang menghargai anak untuk belajar menurut intuisinya masing-masing. Kita dituntut untuk lebih kreatif dan kritis lagi dalam proses pembelajaran di kelas. Pendekatan realistik ataupun pendekatan kontekstual dirasa dapat membantu guru untuk menumbuhkan intuisi mereka dalam proses pembelajaran. 



Selasa, 01 Januari 2013

Refleksi 17 Desember 2012


Pada pertemuan kali ini seperti biasa mahasiswa diikutsertakan dalam berfilsafat. Yaitu mahasiswa diminta untuk memberikan pertanyaan, di mana pertanyaaan-pertanyaan ini merupakan salah satu olah pikir sebagaimana yang dimaksud dari filsafat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya:
Ø  Apakah hakekat angin?
Objek berfilsafat berdimensi, yang paling primitive adalah intuisi. Intuisi adalah hal yang tidak diketahui oleh seseorang kapan dia mengetahui hal tersebut. Misalnya kita tidak mengetahui kapan kita tahu rasa itu enak, cantik, bagus, jelek dan sebagainya. Intuisi tidak dapat didefinisikan dengan tepat. Dimensi dalam filsafat adalah secara formal,normatif, material dan spiritual. Angin termasuk pengertian intuitif empiris karena angin hanya memiliki bentuk formal yaitu angin topan,rebut, putting beliung dan lain-lain, ia tiadak memiliki bentuk normative ataupun spiritual sehingga ia hanya terbatas pada pengetahuan formal saja.
Ø  Apakah hakekat perceraian?
Seperti disebutkan sebelumnya tentang objek filsafat yang berdimensi bentuk formal dari perceraian berada dalam Undang-undang Perkawinan, bentuk normatifnya yaitu tentang baik-buruk. Dalam kitab suci juga menjelaskan tentang perceraian sehingga perceraian memuat bentuk spiritual.
Ø  Manakah yang harus didahulukan dalam sebuah rumah tangga, memberikan bantuan kepada pasangannya atau orang tua terlebih dahulu?
Komunikasi adalah hal yang didahulukan. Setiap orang di dunia ini memerlukan komunikasi dalam kehidupannya. Oleh karena itu dengan adanya komunikasi yang baik, tidak peduli yang mana yang didahulukan. Menurut saya itu bergantung pada ruang dan waktu.
Ø  Bagaimana cara mengatasi kekalahan agar tidak semakin terpuruk?
Manusia harus selalu berdoa dan berusaha. Agar tidak terpuruk dalam berfilsafat, mahasiswa hendaknya rajin membaca elegi dan memahaminya dengan memberikan komentar-komentar. Berfilsafat tidak hanya mengejar nilai tetapi pada banyaknya membaca elegi dan membuat komentar.
Ø  Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Komunikasi juga patut dikembangkan agar mampu menumbuhkan semangat. Dan ia juga harus menyadari bahwa di luar sana masih banyak manusia yang kurang beruntung dari kita, namun mereka tetap bersyukur terhadap apa yang mereka dapatkan. Dan mereka tetap positif menghadapi kehidupan, untuk menumbuhkan semangat jangan terus kita melihat ke atas kita perlu melihat ke bawah untuk kembali bersyukur terhadap apa yang kita dapat.
Ø  Mengapa ada pro dan kontra dan apa penyebabnya?
Hal ini terjadi karena merupakan ciptaan Tuhan bahwa pasti dalam hidup ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam hati adalah godaan setan. Pertanyaan selanjutnya adalah hakekat dari perubahan. Perubahan merupakan hal yang dipelajari secara intuisi oleh manusia. Manusia tidak memerlukan definisi perubahan.
Ø  Apa yang disebut dewa?
Dalam adab berfilsafat disebutkan adalah ruang dan waktu, maka yang disebut dengan dewa juga bergantung pada ruang dan waktu, setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi dewa. 
Ø  Bagaimana cara membedakan hasil berpikir filsafat dan hasil telaah?
 Hasil berpikir filsafat dan telaah dibedakan berdasarkan kerangkanya. Berfilsafat itu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Berpikir filsafat adalah pikiran para filsuf. Berpikir filsafat juga intensif dan ekstensif yang menyebabkan memiliki sudut pandang yang banyak dalam berfilsafat.
Ø  Mengapa banyak gejala alam yang semakin kompleks.
Bagi para orang tua, gejala alam justru semakin sederhana karena sudah mengalami lupa/pikun. Bagi manusia yang masih remaja, kekompleksan merupakan bukti bahwa makin banyak yang ia mengerti.
Ø  Apakah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan.
Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada adalah sebagian dari ciptaan Tuhan. Masih banyak hal lain yang merupakan ciptaan Tuhan yang belum diketahui oleh manusia. Manusia tidak boleh beranggapan bahwa ia mengetahui segalanya karena manusia pasti tidak akan mampu mengetahui segala ciptaan Tuhan. Manusia jangan hanya berkutat dan sibuk pada ciptaannya sendiri tetapi juga pada hal-hal lain yang ada. Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada harus selalu disyukuri dan manusia harus selalu memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat.

Semoga dari beberapa pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab oleh Bapak Prof.Dr.Marsigit dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang berharga dan dapat menambah wawasan kita tentang berfilsafat. Terimakasih. 

Minggu, 16 Desember 2012

REFLEKSI (SENIN, 10 DESEMBER 2012)


Ø  Apakah segala sesuatu di alam ini memiliki pola?
Sebuah pola bukan merupakan pola bagi orang yang tidak memahami. Sebuah jalan itu bukan jalan bagi orang yang tidak memahaminya. Bagi orang yang memahami dan mempercayainya semua berpoloa. Karena semua telah di design oleh Tuhan.
Misalnya seekor semut yang berada dalam ember, mereka tidask tau kalau di luar ember tersebut terdapat ayam. Pola itu ada bagi orang yang percaya dan mengetahui.

Ø  Apakah hakekat perbedaan dalam kesatuan?
Tiap orang berbeda dalam banyak hal, tapi dapat bersama dalam beberapa hal. Manusia itu berbeda, tetapi semua itu sama. Yaitu sama-sama makhluk tuhan, semua hidup membutuhkan oksigen. Tapi tidak ada manusia yang sama, manusia terikat ruang dan waktu. Layaknya para calon guru matematika yang sama-sama akan mengajar matematika namun dapat berbeda dalam pembelajaran di kelas menggunakan pendekatan dan metode yang berbeda namun memiliki satu tujuan yang sama yaitu mengkontruksi pengetahuan para peserta didik untuk pemahaman konsep matematika

Ø  Kapan sesuatu tersebut disebut mimpi?
Mimpi dapat diingat kembali atau tidak, kualitas mimpi dapat rendah atau sebaliknya tergantung pengalaman hidup seseorang. Area mimpi dapat didekati dengan area psikologi sebagai gejala jiwa.

Ø  Apakah beda antara cinta dan sayang?
Sayang dan cinta kontekstual dan berdimensi. Cinta dan sayang sama-sama intuisi. Cinta tidak dapat didefinisikan, kita hanya dapat mengkarakteristikan atau mencirikan bagaimana cinta dan sayang tersebut. Dalam membedakan cinta dan sayang adalah dengan intuisi. Cinta dapat menjadi suatu rasa sayang, dalam hal ini cinta dan sayang dapat diartikan sama. Namun cinta juga dapat menjadi objek atau nama seseorang. Sayang pun demikian, oleh karena itu cinta dan sayang itu dapat diartikan sesuai dengan konteks. Cinta dan sayang bersifat kontekstual.

Ø  Mengapa objek dalam filsafat itu ada dan yang mungkin ada? Bagaimana dengan yang tidak ada?
Sesuatu yang tidak ada relative terhadap ruang dan waktu. Tidak ada dapat dikategorikan ada dan yang mungkin ada. Misalnya saat sesorang tidak mengetahui apa yang ada di kantong seseorang, itu menjadi sesuatu yang mungkin ada, ternyata dalam kantong tidak apa-apa maka sesuatu tersebut menjadi ada.
Semua yang tidak ada menjadi sebuah ikhtiar, filsafat itu berbahaya karena kemungkinan-kemungkinan yang berhubungan dengan spiritual harus dimasukkan ke dalam rumah epoke.

Ø  Apa cirri-ciri guru yang galak?
Mudah marah, toleransi kecil, memaksakan kehendak. Oleh karena itu sebagai calon guru matematika janganlah kita memaksakan kehendak kita agar peserta didik dapat mengerjakan apa yang kita inginkan, kita harus sebisa mungkin memfasilitasi mereka agar mereka dapat mengikuti pembelajaran sesuai dengan kemampuan mereka.

Ø  Bagaimana menghadapi orang yang enggan atau pelit untuk berbagi ilmu dengan orang lain?
Pada dasarnya janganlah kita pelit untuk membagi ilmu, kita tidak akan menjadi rugi dengan membagi ilmu tersebut, justru itu akan menjadi manfaat untuk orang lain dan hidup kita akan menjadi lebih bermakna karena apa yang kita miliki dapat diakui oleh orang lain.
Namun kita juga harus tetap menghargai karya orang lain misalnya bagi mereka yang berorientasi bisnis. Ilmu dapat menjadi mahal ataupun terjangkau. Tergantung penilaian orang menghargai suatu ilmu tersebut. Untuk menghadapi orang yang pelit tersebut adalah dengan pintar-pintar kita menyikapinya dan keterampilan kita dalam berkomunikasi.

Ø  Bagaimana cara memberi pemahaman kepada guru matematika yang tidak suka menggunakan metode pemebelajaran yang bervariasi?
Prinsip hidup adalah keterampilan hidup itu untuk mengkonstruksikan pengetahuan yang ada. Sebagai contoh misalnya disaat seseorang akan mensosialisasikan suatu pendekatan pembelajaran. Seseorang tersebut tidak harus langsung memberikan bagaimana pendekatan pembelajaran yang baik tersebut. seseorang tersebut melakukan survey atau observasi di kelas-kelas di mana dia akan bersosialisasi. Setelah observasi, seseorang tersebut memberikan gambaran kegiatan di kelas selama observasi, lalu kemudian ia mengumpulkan para guru yang akan disosialisasikan bagaimana kegiatan pembelajaran tersebut dapat berjalan lebih baik lagi dengan adanya pendekatan. Dalam memahamkan seseorang kita menempatkan diri kita sebagai pembelajar.



Ø  Apa penyebab dari krisis multidimensi?
Penyebab dari krisis multidimensi adalah dari guru itu sendiri. guru yang tidak mendasari intuisi dalam proses pembelajaran di mana peserta didik tidak belajar secara alami, tidak dengan intuisi dan peserta didik dianggap sebagai tong kosong yang belum memiliki pengetahuan, yang harus diisi bukan membangun atau mengisi tong tersebut dengan intuisi mereka.

Ø  Mengapa filsafat itu sulit?
Filsafat itu sulit karena bersifat ekstensif dan intensif. Mempelajari filsafat seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya

Ø  Apa yang dimaksud dengan Hermeneutika?
Hermeneutika adalah terjemah menterjemahkan. Dalam masyarakat kita tidak lain adalah silaturahim, sesuai dengan sunnatullah nya guru memfasilitasi peserta didik dalam belajar matematika.
Layaknya seseorang yang ingin memberikan pemahaman kepada guru, ia membuat skema atau alat peraga atau media dan mencontohkan apa yang seharusnya dilakukan. Orang yang memberikan pemahaman tersebut disebut sebagai observer, di mana observer tersebut juga merupakan agen pembelajar.

Ø  Secara filsafat apakah adakah kaitannya antara khayalan dengan cita-cita?
Ya ada, cita-cita adalah khayalan yang tercipta, terstruktur, dan memiliki dasar atau latar belakang. Misalnya seseorang yang bercita-cita untuk pergi ke planet Jupiter, ia harus memiliki dasar uang yang cukup, pengetahuan yang cukup untuk pergi ke sana. Namun jika seseorang tersebut hanyalah orang biasa yang tidak banyak memiliki pengetahuan tentang hal tersebut maka cita-cita tersebut menjadi sebuah khayalan.  Cita-cita adalah khayalan yang dapat dipertanggung jawabkan.

Ø  Apakah kesombongan itu?
Kesombongan memiliki arti yang bertingkat-tingkat. Kesombongan dalam spiritual identik dengan setan. Namun kita sebagai orang awam dapat mendefinisikan kesombongan tersebut dengan intuisi.
Intuisi itu penting untuk menumbuhkan pengetahuan kita. Sebagai calon guru matematika kita harus memberi perhatian untuk menggunakan intuisi dalam pembelajaran dan dapat dimengerti oleh peserta didik. 

Mitos dan Intuisi


Mitos sesuatu yang sering tidak asing oleh telinga kita. Lalu apakah mitos itu? Mitos merupakan cerita dengan latar masa lampau yang berisi tentang penafsiran alam semesta dan makhluk yang hidup di dalamnya serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang bercerita tersebut. Banyak orang tidak mengerti makna dari mitos tersebut, tapi banyak orang melakukan itu.          
Pada dasarnya anak melakukan sesuatu dengan mitos, mereka tidak memikirkan untuk apa dan akan bagaimana jika anak melakukan sesuatu. Mereka hanya melakukan apa yang ingin mereka lakukan, misalnya seorang anak yang berlari ke jalan raya tanpa melihat kanan dan kiri, meniru orang sekitarnya, entah itu baik atau buruk. Dari penggambaran tersebut, mitos di sini berkaitan erat dengan intuisi. Kita tahu bahwa anak dalam hal berpikir hanya menggunakan intuisi. Intuisi merupakan kemampuan memahami sesuatu tanpa adanya penalaran intelektual yang tinggi. Dalam berfilsafat keadaan dimana sesuatu tidak dapat dilihat dan diraba tetapi bisa dipikirkan disebut sebagai ranah noumena.
Mitos dapat ditemukan dalam pembelajaran matematika, misalnya seorang guru matematika yang melakukan pembelajaran di kelas, ia hanya menerangkan ceramah di depan tanpa memberikan makna atau tujuan pembelajaran yang diajarkan. Misalnya pada teorema Pythagoras, guru hanya memberikan materi tentang teorema tersebut, tanpa memberikan pemaknaannya atau tidak memberikan ruang intuisi anak, maka anak akan sulit untuk langsung menerima hal tersebut. Padahal proses pembelajaran akan lebih bermakna dengan berpusat ke siswa. Di mana siswa dapat turut membangun ilmu pengetahuan mereka sendiri. Dengan begitu siswa akan dapat lebih memahami dan mengerti tentang materi tersebut, dan diharapkan dapat menghilangkan kesan sulit dan menyeramkan terhadap matematika.
Mitos bagi orang awam identik dengan hal-hal yang mistis makhluk gaib dan sejenisnya. Tidak dipungkiri hal-hal mistis dan makhluk gaib itu memang benar adanya. Meskipun itu tidak dapat dinalarkan secara rasional, tapi itu memang ada. Begitupun dengan kepercayaan kita, Tuhan kita tidak dapat melihat, mendengar dan meraba namun kita yakin di hati kita bahwa Tuhan itu ada. Dengan intuisi tersebut kita yakin bahwa isi dunia dan seluruh jagat raya ini adalah kuasa-Nya.
Begitu pula dengan matematika, sebagai calon guru matematika kita harus memperhatikan intuisi anak dalam pembelajaran matematika. Dengan begitu diharapkan anak setidaknya menghilangkan kesan sulit dan lebih tertarik pada matematika, sehingga anak akan dapat memahami pembelajaran matematika

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU


                                                                                 
            Sebelumnya kita telah berbicara tentang adab dalam berfilsafat, salah satunya adalah sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Kita harus dapat menghargai ruang dan waktu dalam berfilsafat. Bagaikan waktu yang tak pernah berhenti, filsafat itu hidup sampai tak ada lagi manusia yang hidup. Selama masih ada manusia yang hidup filsafat akan terus hidup, dan selama manusia manusia melakukan olah pikir. Manusia hidup membutuhkan olah pikir, berpikir untuk kehidupan dan akhirat. Orang yang tak percaya adanya Tuhan sekalipun.
      Adab filsafat juga menyebutkan bahwa kita diminta untuk menghidupkan filsafat kita sendiri, tidak hanya menerima dari orang lain. Namun tidak berarti kita tidak boleh merujuk dari filsafat kita dari orang lain. Kita memerlukan pikiran-pikiran para filsuf terdahulu untuk memperkuat gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran kita dalam berfilsafat. Kita dapat merefer pikiran kita dari pikran filsuf terdahulu dan merelevansikannya dengan pengalaman hidup kita, sedalam-dalamnya (intensif) dan seluas-luasnya (ektensif).
            Immanuel Kant salah satu filsuf Jerman mengelompokkan waktu menjadi tiga yaitu, waktu yang berurutan, berkelanjutan dan berkesatuan tidak terpisah. Manusia hidup memerlukan waktu, waktu manusia hidup berurutan dari kecil, remaja, dan lanjut usia. Sebelum lanjut usia seseorang pastilah sebelumnya melewati fase dewasa, sebelum dewasa melewati remaja begitu seterusnya. Sehingga kita hidup memerlukan waktu yang berurutan dan berkelanjutan, kecil ke remaja dan seterusnya.
            Filsafat ada bermacam-macam bergantung pada objeknya. Misalnya filsafat alam. Filsafat yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan atau pikiran tentang alam. Filsafat guru matematika berkaitan dengan guru matematika, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru, bagaimana ia mengajar, dan seterusnya. Guru matematika merupakan objek filsafat.
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan dan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika. Santun itu berarti mengerti, menghayati, memahami kamudian merefleksikan.
            Objek dalam berfilsafat dapat berada dalam pikiran atau di luar pikiran kita. Objek yang dapat dilihat, dipegang dan didengar merupakan objek yang berada di luar pikiran. Sedangkan objek yang berada di dalam pikiran adalah apabila di saat kita memejamkan mata kita memikirkan sesuatu maka objek filsafat tersebut beradadi dalam pikiran.
      Aristoteles merupakan filsuf yang beraliran realism yang melihat objek di luar pikiran. Ia terlebih dahulu memandang yang konkrit, bermula dari mengumpulkan fakta-fakta yang ada kemudian disusun menurut ragam dan jenis atau sifatnya dalam suatu sistem setelah itu ia meninjaunya kembali dan disangkutpautkan satu sama lain. Sedangkan gurunya Plato beraliran idealism yang melihat objek berada di dalam pikiran Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
            Dalam berfilsafat kita dapat menembus ruang dan waktu, yang dimaksud dengan menembus ruang dan waktu adalah subjek dari filsafat. Pikiran kita merupakan ruang dalam berfilsafat. Ruang merupakan wadah yang berisi, isi pikiran kita terdapat ada dan yang mungkin ada. Untuk mengetahui ruang kita harus mengetahui waktu dan sebaliknya waktu juga memerlukan ruang. Sebenar-benarnya ruang dan waktu adalah dalam pikiran kita.
Menembus ruang dan waktu itu tergantung pada apa yang dimaksud apakah materialnya, formalnya, normatifnya atau spiritualnya. Contohnya seorang dosen, namanya sampai pada meja menteri, maka secara formal telah menembus ruang dan waktu. Tidak hanya manusia saja yang dapat menembus ruang dan waktu benda mati misalnya batu pun dapat menembus ruang dan waktu, karena batu tidak dapat terbebas dari hukum perubahan menembus ruang dan waktu, batu juga menagalami hari senin,selasa dan seterusnya. Menembus ruang dan waktu merupakan hal yang berdimensi dan mengikuti yang ada dan yang mungkin ada. Manusia secara material, formal tidaklah memiliki hal yang sama. 
Menembus ruang dan waktu dilakukan dengan menggunakan metode yang ada dalam pikiran subyeknya, contohnya adalah bagaimana sebuah batu permata dipakai oleh seseorang yang masuk ke istana, sehingga batu tersebut telah menembus ruang dan waktu metodenya adalah dengan menempel pada tangan seseorang.
Semua yang tidak dapat dipikirkan, dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia tinggal di rumah epoke, sehingga semua yang tidak dipikirkan oleh manusia berarti telah dimasukkan pada rumah epoke.Dalam berfilsafat kita harus menempatkan spiritual pada sistem yang paling atas, sebagai dasar dan pedoman kita dalam melakukan setiap hal.
Jangan sampai pikiran-pikiran kita melampaui batas spiritual kita, jika akan menuju ke sana buanglah pikiran-pikiran itu ke dalam rumah epoke.


Minggu, 04 November 2012

REFLEKSI 3 Pengenalan Aliran Filsafat


REFLEKSI 3
Pengenalan Aliran Filsafat
Filsafat memiliki ruang lingkup yang luas dan tiap orang memiliki sudut pandang tersendiri dalam melihat filsafat. Sehingga lahirlah aliran-aliran filsafat dengan berbagai pandangan. Aliran-aliran ini ada berdasarkan objeknya. Misalnya benda-benda alam, maka kita dapat menyebutnya dengan filsafat alam atau sesuai dengan tokohnya, maka kita dapat menyebut aliran filsafat tersebut dengan nama tokoh atau pokok pikirannya. Berikut ini beberapa aliran –aliran filsafat berdasarkan tokoh-tokohnya beserta gagasan-gagasan mereka yang terkenal:
1.      Hegealisme
George Wilhelm Friedrich Hegel anak seorang romantisisme yang dilahirkan di Stuggart pada tahun 1770, dan mulai belajar teologi di Tubingen pada usia delapan belas tahun. Pada tahun 1818, Hegel diangkat menjadi seorang profesor di Berlin. Dan pada thaun 1813, beliau meninggal karena penyakit kolera, setelah ‘Hegelianisme’ berhasil mendapatkan pengikut yang sangat besar di hampir semua universitas di Jerman.
Hegel menggunakan istilah ‘ruh dunia,’ tapi dalam suatu pengertian baru. Ketika Hegel berbicara tentang ‘ruh dunia’ atau ‘akal dunia,’ yang dimaksudkannya adalah seluruh perkataan manusia, sebab hanya manusia yang mempunyai ‘ruh.’ Dalam pengertian ini, dia dapat membicarakan tentang kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah.
Filsafat Hegel mengajarkan kita untuk berpikir secara produktif. Hegel meyakini bahwa dari kesadaran manusia berubah, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu tidak ada kebenaran yang abadi, tidak ada akal yang kekal. Satu-satunya titik pasti yang dapat dijadika pegangan bagi filsafat adalah sejarah itu sendiri.
2.      Plato (idealism)
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan idea.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
3.      Aritoteles (Realisme)
Aristoteles sependapat dengan gurunya Plato, yaitu tujuan terakhir daripada filosofi adalah pengetahuan tentang wujud/adanya dan yang umum. Dia juga mempunyai keyakinan tentang kebenaran yang sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jelas pengertian, bagaimana memikirkan adanya itu? Menurut Aristoteles adanya itu tidak dapat diketahui dari materi benda belaka, tidak pula dari pemikiran yang bersifat umum semata. Seperti pendapat Plato tentang adanya itu terletak dalam barang satu-satunya, selama barang tersebut ditentukan oleh yang umum. Pandangannya juga yang realis dari pandanganan Plato yang selalu didasarkan pada yang abstrak. Ini semua disebabkan dari pendidikannya diwaktu kecil yang senantiasa mengharapkan adanya bukti dan kenyataan. Ia terlebih dahulu memandang yang konkrit, bermula dari mengumpulkan fakta-fakta yang ada kemudian disusun menurut ragam dan jenis atau sifatnya dalam suatu sistem setelah itu ia meninjaunya kembali dan disangkutpautkan satu sama lain.
4.      Socrates
Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya, mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendiriannnya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut Intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedangkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.

5.      Monisme
Monisme (monism) berasal dari kata Yunani yaitu monos (sendiri, tunggal) secara istilah monisme adalah suatu paham yang berpendapat bahwa unsur pokok dari segala sesuatu adalah unsur yang bersifat tunggal/ Esa. Unsur dasariah ini bisa berupa materi, pikiran, Allah, energi dll. Bagi kaum materialis unsur itu adalah materi, sedang bagi kaum idealis unsur itu roh atau ide.[21] Orang yang mula-mula menggunakan terminologi monisme adalah Christian Wolff (1679-1754). Dalam aliran ini tidak dibedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama. Ibarat zat dan energi dalam teori relativitas Enstein, energi hanya merupakan bentuk lain dari zat. Atau dengan kata lain bahwa aliran monisme menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan yang fundamental.


6.      Dualisme
Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga, dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.Versi dari dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641), yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang.
7.       Pluralism
Pluralisme (Pluralism) berasal dari kata Pluralis (jamak). Aliran ini menyatakan bahwa realitas tidak terdiri dari satu substansi atau dua substansi tetapi banyak substansi yang bersifat independen satu sama lain. Sebagai konsekuensinya alam semesta pada dasarnya tidak memiliki kesatuan, kontinuitas, harmonis dan tatanan yang koheren, rasional, fundamental. Didalamnya hanya terdapat pelbagi jenis tingkatan dan dimensi yang tidak dapat diredusir. Pandangan demikian mencangkup puluhan teori, beberapa diantaranya teori para filosuf yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri dari udara, tanah, api dan air. Dari pemahaman diatas dapat dikemukakan bahwa aliran ini tidak mengakui adanya satu substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, karena menurutnya manusia tidak hanya terdiri dari jasmani dan rohani tetapi juga tersusun dari api, tanah dan udara yang merupakan unsur substansial dari segala wujud
8.      Determinisme
Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu   tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah   terpasti lebih dahulu.
Manusia yang hobinya suka menentukan disebut determinis, politikus dan pemimpin yang otoriter termasuk determinis. Seseorang menjadi seorang yang determinis jika ia mengambil keputusan penting dan diterima oleh orang lain. Yang benar yang berkuasa.
Kodrat manusia adalah terpilih dan memilih, manusia itu lemah dan tidak sempurna.

ALIRAN – ALIRAN, TOKOH DAN IDENYA


A.    Pendahuluan
Filsafat adalah suatu olah pikir untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pikiran kita. Para pendahulu kita telah lama melakukan filsafat, mereka adalah filsuf-filsuf yang sangat hebat. Dengan adanya mereka, lahirlah ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat untuk kehidupan manusia di jagad raya ini. Aliran-aliran filsafat barat banyak mempengaruhi ilmu pengetahuan saat ini. Filsafat dan ilmu adalah suatu yang berbeda namun tak dapat dipisahkan. Dengan adanya filsafat akan dapat lahir suatu ilmu pengetahuan, sebaliknya dengan adanya perkembangan ilmu pengetahuan dapat memperkuat keberadaan filsafat. Pada kajian ini akan dibahas tentang perkembangan filsafat dari zaman yunani kuno hingga awal abad 20.

B.     Yunani Kuno (Sebelum Masehi)
Pada saat mengaji filsafat Yunani, para sarjana filsafat mengatakan bahwa itu berarti menyaksikan kelahiran filsafat. Filsafat yunani merupakan pengantar pada perkembangan pemikiran filsafat. Salah satu tokoh terkenal pada masa ini yaitu Pythagoras. Ajaran-ajarannya yang pokok adalah pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah ke dalam hewan, dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi itu. Kedua dari penemuannya terhadap interval-interval utama dari tangga nada yang diekspresikan dengan perbandingan dengan bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikusai oleh hukum matematis. Bahkan katanya segala-galanya adalah bilangan. Ketiga mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagat raya bukanlah bumi melainkan Hestia (Api), sebagaimana perapian merupakan pusat dari sebuah rumah.
Pada jaman Pythagoras ada Herakleitos di kota Ephesos dan menyatakan bahwa api sebagai dasar segala sesuatu. Api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja berubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa di dalam dunia alamiah tidak sesuatupun yang tetap. Segala sesuatu yang ada sedang menjadi. Pernyataannya yang masyhur "Pantarhei kai uden menei" yang artinya semuanya mengalir dan tidak ada sesuatupun yang tinggal tetap. Namun berbeda dengan Herakleitos, Parmenides berpendapat bahwa yang ada ada, yang tidak ada tidak ada. Konsekuensi dari pernyataan ini adalah yang ada
1.      satu dan tidak terbagi,
2.      kekal, tidak mungkin ada perubahan,
3.      sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya,
4.      mengisi segala tempat
Dari empat konsekuensi tersebut dapat disimpulkan bahwa Parmenides berpendapat bahwa tidak mungkin ada gerak atau tetap. Ini berkebalikan dengan pendapat Herakleitos. Parmenides merupakan filsuf pertama yang disebut sebagai peletak dasar metafisika.
Socrates
Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya, mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Socrates memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendiriannnya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut Intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang berlaku bagi semua manusia. Sedangkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.
Plato
Plato adalah murid dari Socrates. Hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yang dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yang begitu. Pertama, sifat karyanya Socratik – Socrates berperan sentral – dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dengan teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yang dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog, dan filsafat seolah-olah drama yang hidup, yang tidak pernah selasai tetapi harus dimulai kembali.
Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan metode pengetahuan. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yang selalu berubah dan dunia idea yang tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yang obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Idea-idea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir di dalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam kongkret, dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikam dua pengenalan. Pertama, pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yang sebenarnya. Pengenalan yang dapat dicapai oleh rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat, teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat), dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dengan panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat Pra-socratik yaitu pandangan pantarhei-nya Herakleitos dan pandangan yang ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Tentang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dengan badan, jiwa sudah mengalami pra eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yang telah dilihat pada waktu pra-eksistensi. Dunia yang kelihatan, menurut Plato, hanya merupakan bayangan dari dunia yang sungguh-sungguh, yaitu dunia ide-ide yang abadi. Jiwa manusia berasal dari dunia ide-ide. Jiwa di dunia ini terkurung di dalam tubuh. Keadaan ini berarti keterasingan. Jiwa kita rindu untuk kembali ke "surga ide-ide".
Filsafat Plato, yang lebih bersifat khayal daripada suatu sistem pengetahuan, sangat dalam dan sangat luas dan meliputi logika, epistemolgi, antropologi, teologi, etika, politik, ontologi, filsafat alam dan estetika.
Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yang bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama "Akademia" yang paling didedikasikan kepada pahlawan yang bernama Akademos. Mata pelajaran yang paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan; "yang belum mempelajari geometri janganlah masuk di sini".

Aristoteles
Aristoteles adalah guru Iskandar Agung, raja yang berhasil membangun kekaisaran dalam wilayah yang sangat besar dari Yunani-Mesir sampai ke India-Himalaya.  Dengan itu, Helenisme (Hellas = Yunani) menjadi salah satu faktor penting bagi perkembangan pemikiran filsafati dan kebudayaan di wilayah Timur Tengah juga. Ia merupakan murid dari Plato. Pengetahuan yang diminati oleh Aristoteles luas sekali, menurutnya pengetahuan manusia dapat disistemasikan sebagai berikut; pengetahuan teoritis, praktis, produktif, teologi/metafisik, matematik, fisika, etika, politik, seni, ilmu ukur dan retorika. Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan deduksi, Induksi mengandalkan panca indera yang "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yang dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogosme).

Dalam filsafat, Aristoteles disebut sebagai tokoh madzhab Peripatis (peripatos, berjalan-jalan) yang menyadarkan diri pada deduksi untuk memperoleh kebijaksanaan. Sedangkan gurunya, Plato merupakan tokoh madzhab Illuminasionis yang juga mengandalkan jalan hati, asketisme dan penyucian jiwa dalam menyingkap realitas. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besar sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam.
C.    Zaman Kegelapan / Abad Pertengahan (abad 12-13 Masehi)
Pada masa ini pemikiran ilmu pengetahuan lebih didominasi oleh karakteristik teosentris. Pada periode ini ilmu pengetahuan berpihak penuh pada otoritas agama (yang dalam hal ini bisa direpresentasikan oleh gereja dalam tradisi kristen); dimana ilmu pengetahuan berada dibawah pengawasan institusi gereja. Pengajaran imu-ilmu pengetahuan dilaksanakan digereja-gereja. Bukan hanya di barat, di dunia timur tengah (yang notabenenya merupakan daerah kekuasaan umat Islam), permasalahan ilmu pengetahuan juga diwarnai dengan perbincangan para penganut Plato dan aristoteles.

D.    Zaman pencerahan (abad 15 M)
Ilmu pengetahuan tidak berlandaskan pada “hukum Tuhan”, seperti dalam Abad Pertengahan, melainkan pada penalaran dari manusia itu sendiri untuk mengungkapkan kebenaran. Mulai sekarang manusia-lah yang dianggap sebagai titik fokus dari kenyataan. Filsuf-filsuf ini menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi ("ratio") manusia. Para filsuf mencoba melepaskan diri dari cengkraman gereja, sehingga kemudian dikenal istilah sekuralisasi pengetahuan.Tokoh awalnya adalah Copernicus yang mengintrodusir dalil bahwa bumi bukan pusat dari alam semesta, bukan seperti yang dikemukakan Ptolomeus dimana bumi adalah pusat jagad raya (geosentis) yang diperkuat oleh gereja. Teori Copernicus ini melahirkan revolusi pemikiran tentang ilmu astronomi. Kemudian muncul Keppler yang mengemukakan hukum astronomi bahwa orbit dari semua planet berbentuk elips. Pendapat ini diperkuat dengan pembuktian Galileo, dimana ia menyatakan bahwa pusat jagad raya adalah matahari (heliosentris). Dan bumi mengalami dua gerak (rotasi); yakni bergerak pada porosnya dan bergerak mengelilingi matahari. Ada juga Pascal yang menyusun dasar-dasar perhitungan statistic. Kemudian Newton yang melahirkan teori grafitasi, perhitungan calculus dan sistem kerja optik.

E.     Awal Zaman Modern (abad 16 M)
Rene Descartes
René Descartes merupakan seorang filsuf dan matematikawan Perancis. Karyanya yang terpenting ialah Discours de la méthode(1637) dan Meditationes de prima Philosophia (1641). Descartes, kadang dipanggil "Penemu Filsafat Modern" dan "Bapak Matematika Modern", adalah salah satu pemikir paling penting dan berpengaruh dalam sejarah barat modern. Dia menginspirasi generasi filsuf kontemporer dan membentuk rasionalisme kontinental yakni sebuah posisi filosofikal pada Eropa abad ke-17 dan 18. Pemikirannya membuat sebuah revolusi falsafi di Eropa karena pendapatnya yang revolusioner bahwa semuanya tidak ada yang pasti, kecuali kenyataan bahwa seseorang bisa berpikir.
Lima ide Descartes yang punya pengaruh penting terhadap jalan pikiran Eropa adalah: pandangan mekanisnya mengenai alam semesta;  sikapnya yang positif terhadap penjajagan ilmiah; tekanan yang, diletakkannya pada penggunaan matematika dalam ilmu pengetahuan; pembelaannya terhadap dasar awal sikap skeptis; dan  penitikpusatan perhatian terhadap epistemologi.
Descartes mengkategorikan pengetahuan ke dalam tiga bagian yang dapat diragukan yakni:
·         Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi dapat diragukan, semisal kita memasukan kayu lurus ke dalam air maka akan nampak bengkok.
·         Fakta umum tentang dunia semisal api itu panas dan benda yang berat akan jatuh juga dapat diragukan. Descrates menyatakan bagaimana jika kita mengalami mimpi yang sama berkali-kali dan dari situ kita mendapatkan pengetahuan umum tersebut.
·         Logika dan matematika, prinsip-prinsip logika dan matematika juga ia ragukan. Ia menyatakan bagaimana jika ada suatu makhluk yang berkuasa memasukan ilusi dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matriks.

David Hume
Francis Bacon yang menjadi perintis filsafat ilmu pengetahuan dengan ungkapannya yang terkenal “knowledge is power”. Pada abad ini perdebatan tentang filsafat ilmu tidak lepas dari perdebatan dalam ilmu itu sendiri. Bacon dengan metode induksi yang memandang dalam menghasilkan ilmu pengetahuan para ilmuwan harus menghasilkan penyebutan yang seksama terhadap fenomena empiris yang diselidiki sebagai pendahuluan untuk mengidentifikasi “bentuk” obyek yang ingin dijelaskan. Berbeda dengan Descrates yang terfokus pada persoalan penyusunan sistem-sistem deduktif yang serba koheren dan konsisten dalam teori pengetahuan. Pada abad ini berbagai aliran filsafat muncul. Adapun paham-paham yang muncul secara garis besar adalah Rasionalisme, Empirisme, Kritisisme, Idealisme, Positivisme dan Marxisme.
David Hume menganut aliran Empirisme. Aliran Empirisme menyatakan bahwa tidak ada sesuatu dalam pikiran kita selain didahului oleh pengalaman. Aliran ini secara tegas menolak pandangan paham Rasionalisme yang berdasarkan pada kepastian yang bersifat apriori.


F.     Zaman Modern (abad 17-18 M)
Immanuel Kant
Seorang filsuf Jerman yang bernama Immanuel Kant. Aliran ini berusaha menjembantani pandangan-padangan yang saling bertentangan antara Rasionalisme dan Empirisme. Menurut Kant, pengetahuan merupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya kerjasama antara dua komponen, yaitu bahan-bahan yang bersifat pengalaman indrawi disatu pihak dengan pengolahan kesan-kesan yang bersangkutan sehingga terdapat suatu hubungan sebab akibat dalam kerangka pikir (rasio) dipihak lain. Kant mengemukakan bahwa pengetahuan harusnya sintesis apriori, yakni pengetahuan harus bersumber dari rasio dan empiris dan sekaligus bersifat apriori dan aposteriori.
Kant mengemukakan pendapatnya tentang transendenisme yakni membatasi pengetahuan manusia atau di luar kesanggupan manusia. Karya Kant yang terpenting adalah Kritik der Reinen Vernunft, 1781. Dalam bukunya ini ia mengemukakan apa yang bisa diketahui manusia. Ia menyatakan ini dengan memberikan tiga pertanyaan:
§  Apakah yang bisa kuketahui?
§  Apakah yang harus kulakukan?
§  Apakah yang bisa kuharapkan?
Pertanyaan ini dijawab sebagai berikut:
§  Apa-apa yang bisa diketahui manusia hanyalah yang dipersepsi dengan panca indera. Lain daripada itu merupakan “ilusi” saja, hanyalah ide.
§  Semua yang harus dilakukan manusia harus bisa diangkat menjadi sebuah peraturan umum. Hal ini disebut dengan istilah “imperatif kategoris”. Contoh: orang sebaiknya jangan mencuri, sebab apabila hal ini diangkat menjadi peraturan umum, maka apabila semua orang mencuri, masyarakat tidak akan jalan.
§  Yang bisa diharapkan manusia ditentukan oleh akal budinya. Inilah yang memutuskan pengharapan manusia.


Kelima, Positivisme yakni sistem filsafat yang dikembangkan oleh Auguste Comte, seorang matematikus dan filsuf dari Prancis, yang mengakui bahwa sumber pengetahuan berasal dari fakta-fakta positif dari fenomena-fenomena yang bisa diobservasi. Filsafat Positivisme ini juga disebut dengan Empirisme-kritis. Dan dari filsafat ini dikemudian hari lahirlah bidang ilmu sosiologi.
Keenam, Marxisme yang didirikan oleh Karl Marx atas perpaduan antara metode dealektika Hegel dan filsafat Materialisme Feuerbach. Pemikiran Marx bertalian sangat erat dengan sistem sosial dan ekonomi. Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya sebatas masalah ilmu pengetahuan, melainkan juga masalah tindakan. Para filosof selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun luput untuk berusaha mengubahnya. Filsafat ini juga yang melatari adanya revolusi industri di Eropa dan ideologi-ideologi besar di dunia.

G.    Zaman Postmodern (abad 19 M)
Auguste Compte
Auguste Comte, seorang matematikus dan filsuf dari Prancis dimana ia mengembangkan sistem filsafat yaitu Positivisme yakni yang mengakui bahwa sumber pengetahuan berasal dari fakta-fakta positif dari fenomena-fenomena yang bisa diobservasi. Filsafat Positivisme ini juga disebut dengan Empirisme-kritis. Dan dari filsafat ini dikemudian hari lahirlah bidang ilmu sosiologi.
Hegelisme
Frederich Hegel adalah seorang professor yang lahir di Stuttgart tahun1770 dan meninggal tahun 1813 yang melahirkan teori hegelisme. Hegel mengkritik pemikiran- pemikiran tokoh romantis seperti pemikiran schelling tentang ruh dunia. Hegel mengintrepetasikan ulang ‘ruh dunia’ akal manusia yakni seluruh perkataan manusia. Hegel menyatakan bahwa kebenaran merupakan hal yang sangat subyektif. Semua pengetahuan bagi Hegel adalah pengetahuan manusia. Ide-ide Hegel yakni:
·         Pertama, realitas bukanlah suatu keadaan tertentu, melainkan sebuah proses sejarahyang terus berlangsung.
·         Kedua, karena realitas merupakan suatu proses sejarah yang terus berlangsung, kunci untuk memahami realitas adalah memahami hakikat perubahan sejarah.
·         Ketiga, perubahan sejarah tidak bersifat acak, melainkan mengikuti suatu hukum yang dapat ditemukan.
·         Keempat, hukum perubahan itu adalah dialektika, yakni pola gerakan triadik yang terus berulang antara tesis, antitesis, dansintesis.
·         Kelima, yang membuat hukum ini terus bekerja adalah alienasi-yang menjamin bahwa urutan keadaan itu pada akhirnya akan dibawa menuju sebuah akhir akibat kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya.
·         Keenam, proses itu berjalan di luar kendali manusia, bergerak karena hukum-hukum internalnya sendiri, sementara manusia hanya terbawa arus bersama dengannya.
·         Ketujuh, proses itu akan terus berlangsung samapi tercapai suatu situasi, di mana semua kontradiksi internal sudah terselesaikan.
·         Kedelapan, ketika situasi tanpa konflik ini tercapai, manusia tidak lagi terbawa arus oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja di luar kendali mereka. Akan tetapi, untuk pertama kalinya manusia akan mampu menentukan jalan hidup mereka sendiri dan tentunya mereka sendiri akan menjadi penentu perubahan.
·          Kesembilan, pada saat inilah untuk pertama kalinya manusia dimungkinkan untuk memperolah kebebasannya dan pemenuhan diri.
·         Kesepuluh, bentuk masyarakat yang memungkinkan kebebasan dan pemenuhan diri itu bukanlah masyarakat yang terpecah-pecah atas individu-individu yang berdiri sendiri seperti dibayangkan oleh orang liberal.[5] Akan tetapi, merupakan sebuah masayrakat organik, di mana individu-individu terserap ke dalam suatu totalitas yang lebih besar, sehingga lebih mungkin memberi pemenuhan daripada kehidupan mereka yang terpisah-pisah.

Karl Marx
Karl Marx mendirikan marxisme atas perpaduan antara metode dealektika Hegel dan filsafat Materialisme Feuerbach. Pemikiran Marx bertalian sangat erat dengan sistem sosial dan ekonomi. Bagi Marx masalah filsafat bukan hanya sebatas masalah ilmu pengetahuan, melainkan juga masalah tindakan. Para filosof selama ini hanya sekedar menafsirkan dunia dengan berbagai cara, namun luput untuk berusaha mengubahnya. Filsafat ini juga yang melatari adanya revolusi industri di Eropa dan ideologi-ideologi besar di dunia.
H.    Zaman Pos-Pos Modern (Contemporer)
Aliran-aliran air dari pantai sampai pada laut dangkal. Auguste Compte yang mengemukakan teori positivisme mempengaruhi penemuan teori-teori baru yakni:
1.      Pragmatism (Pragmatisme)
Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis.Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu. Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Baratdi dalam sejarah. Tokoh pragmatisme adalah Charles Peirce. 
2.      Utilitarian
Utilitarianisme berasal dari kata Latin utilis, yang berarti berguna, bermanfaat, berfaedah, atau menguntungkan. Istilah ini juga sering disebut sebagai teori kebahagiaan terbesar (the greatest happiness theory). Utilitarianisme sebagai teori sistematis pertama kali dipaparkan oleh Jeremy Benthamdan muridnya, John Stuart Mill. Utilitarianisme merupakan suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan. Menurut kaum utilitarianisme, tujuan perbuatan sekurang-kurangnya menghindari atau mengurangi kerugian yang diakibatkan oleh perbuatan yang dilakukan, baik bagi diri sendiri ataupun orang lain. Adapun maksimalnya adalah dengan memperbesar kegunaan, manfaat, dan keuntungan yang dihasilkan oleh perbuatan yang akan dilakukan. Perbuatan harus diusahakan agar mendatangkan kebahagiaan daripada penderitaan, manfaat daripada kesia-siaan, keuntungan daripada kerugian, bagi sebagian besar orang. Dengan demikian, perbuatan manusia baik secara etis dan membawa dampak sebaik-baiknya bagi diri sendiri dan orang lain.

3.      Capitalis (Kapitalisme)
Kapitalisme atau kapital adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untung kepentingan-kepentingan pribadi. Walaupun demikian, kapitalisme sebenarnya tidak memiliki definisi universal yang bisa diterima secara luas. Beberapa ahli mendefinisikan kapitalisme sebagai sebuah sistem yang mulai berlaku di Eropa pada abad ke-16 hingga abad ke-19, yaitu pada masa perkembangan perbankankomersial Eropa di mana sekelompok individu maupun kelompok dapat bertindak sebagai suatu badan tertentu yang dapat memiliki maupun melakukan perdagangan benda milik pribadi, terutama barang modal, seperti tanah dan manusia guna proses perubahan dari barang modal ke barang jadi. Untuk mendapatkan modal-modal tersebut, para kapitalis harus mendapatkan bahan baku dan mesin dahulu, baru buruh sebagai operator mesin dan juga untuk mendapatkan nilai lebih dari bahan baku tersebut.
Kapitalisme memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak ditemukannya sistem perniagaan yang dilakukan oleh pihak swasta. Di Eropa, hal ini dikenal dengan sebutan guild sebagai cikal bakal kapitalisme. Saat ini, kapitalisme tidak hanya dipandang sebagai suatu pandangan hidup yang menginginkan keuntungan belaka. Peleburan kapitalisme dengan sosialisme tanpa adanya pengubahan menjadikan kapitalisme lebih lunak daripada dua atau tiga abad yang lalu. Tokoh kapitalisme adalah Adam Smith.
4.      Hedonism (Hedonisme)
Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa orang akan menjadi bahagia dengan mencari kebahagiaan sebanyak mungkin dan sedapat mungkin menghindari perasaan-perasaan yang menyakitkan. Hedonisme merupakan ajaran atau pandangan bahwa kesenangan atau kenikmatan merupakan tujuan hidup dan tindakan manusia. Hedonisme muncul pada awal sejarah filsafat sekitar tahun 433 SM. Hedonisme ingin menjawab pertanyaan filsafat "apa yang menjadi hal terbaik bagi manusia?"  Hal ini diawali dengan Socrates yang menanyakan tentang apa yang sebenarnya menjadi tujuan akhir manusia.  Lalu Aristippos dari Kyrene (433-355 SM) menjawab bahwa yang menjadi hal terbaik bagi manusia adalah kesenangan.  Aristippos memaparkan bahwa manusia sejak masa kecilnya selalu mencari kesenangan dan bila tidak mencapainya, manusia itu akan mencari sesuatu yang lain lagi. Pandangan tentang 'kesenangan' (hedonisme) ini kemudian dilanjutkan seorang filsufYunani lain bernama Epikuros (341-270 SM). Menurutnya, tindakan manusia yang mencari kesenangan adalah kodrat alamiah.  Meskipun demikian, hedonisme Epikurean lebih luas karena tidak hanya mencakup kesenangan badani saja seperti Kaum Aristippos, melainkan kesenangan rohani juga, seperti terbebasnya jiwa dari keresahan. 
5.      Filsafat Bahasa (Analitik)
Filsafat bahasa adalah ilmu gabungan antara linguistik dan filsafat. Ilmu ini menyelidiki kodrat dan kedudukan bahasa sebagai kegiatan manusia serta dasar-dasar konseptual dan teoretis linguistik. Filsafat bahasa dibagi menjadi filsafat bahasa ideal dan filsafat bahasa sehari-hari. Filsafat bahasa ialah teori tentang bahasa yang berhasil dikemukakan oleh para filsuf, sementara mereka itu dalam perjalanan memahami pengetahuan konseptual. Filsafat bahasa ialah usaha para filsuf memahami conceptual knowledge melalui pemahaman terhadap bahasa. Dalam rangka mencari pemahaman ini, para filsuf telah juga mencoba mendalami hal-hal lain, misalnya fisika, matematika, seni, sejarah, dan lain-lain. Cara bagaimana pengetahuan itu diekspresikan dan dikomunikasikan di dalam bahasa, di dalam fisika, matematika dan lain-lain itu diyakini oleh para filsuf berhubungan erat dengan hakikat pengetahuan atau dengan pengetahuan konseptual itu sendiri. Jadi, dengan meneliti berbagai cabang ilmu itu, termasuk bahasa, para filsuf berharap dapat membuat filsafat tentang pengetahuan manusia pada umumnya.
Letak perbedaan antara filsafat bahasa dengan linguistik adalah linguistik bertujuan mendapatkan kejelasan tentang bahasa. Linguistik mencari hakikat bahasa. Jadi, para sarjana bahasa menganggap bahwa kejelasan tentang hakikat bahasa itulah tujuan akhir kegiatannya, sedangkan filsafat bahasa mencari hakikat ilmu pengetahuan atau hakikat pengetahuan konseptual. Dalam usahanya mencari hakikat pengetahuan konseptual itu, para filsuf mempelajari bahasa bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai objek sementara agar pada akhirnya dapat diperoleh kejelasan tentang hakikat pengetahuan konseptual itu.

I.       Kesimpulan
Filsafat telah ada dan berkembang sejak zaman sebelum masehi. Pada masa Yunani Kuno tokoh – tokoh yang berpengaruh adalah Heroklitos, Parmenides dan Socrates. Parmenides dan Heroklitos memliki pandangan yang berbeda, Parmenides cenderung tetap sedangkan Heraclitos berubah. Berlanjut setelahnya Plato dan Aristoteles, pemikiran-penikiran mereka sangat berpengaruh hingga sekarang terutama di bidang pemerintahan. Pada abad pertengahan (15 M), ilmu pengetahuan berpihak penuh pada otoritas agama (yang dalam hal ini bisa direpresentasikan oleh gereja dalam tradisi kristen); dimana ilmu pengetahuan berada dibawah pengawasan institusi gereja. Pengajaran imu-ilmu pengetahuan dilaksanakan digereja-gereja. Bukan hanya di barat, di dunia timur tengah.
Pada Abad 16 Rene Descartes dan David Hume mengemukakan pendapat tentang metode rasionalisme dan materialism. Immanuel Kant menjadi tokoh penting yang mengemukakan aliran transndenisme pada abad ke 17-18. Auguste Compte adalah tokoh yang mendasari metode ilmiah untuk semua bidang sehingga pada jaman pos pos modern muncul banyak aliran filsafat yakni pragmatisme, utilitarian, kapitalisme, dan hedonisme. Hingga pada masa kini, filsafat telah berkembang dalam kehidupan praktis. Selama manusia masih berpikir, filsafat akan terus ada dan berkembang. 




Daftar Pustaka
Setiawan,Budi.Sejarah Perkembangan Pemikiran Filsafat: Suatu
Pengantar ke Arah Filsafat lmu. http://fpk.unair.ac.id/webo/kuliah-  pdf/KUL_FIL_01_FPK.pdf.(diakses tanggal : 14 Oktober 2012)

_______.(2012).”Abad Pencerahan”.http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_pencerahan.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)
_______.(2012).”August Comte”.http://id.wikipedia.org/wiki/August_Comte.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Filsafat Bahasa”.http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Bahasa.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Filsafat Modern”.http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Modern.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Filsafat Barat”.http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat_Barat.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Immanuel Kant”.http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Nicolaus Copernicus”.
     http://id.wikipedia.org/wiki/Nicolaus_Copernicus.(diakses tanggal : 13 Oktober
     2012)

_______.(2012).”Parmenides”.http://id.wikipedia.org/wiki/Parmenides.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)

_______.(2012).”Positivisme”.http://id.wikipedia.org/wiki/Positivisme.
     (diakses tanggal : 14 Oktober 2012)

_______.(2012).”Pragmatifisme”.http://id.wikipedia.org/wiki/Pragmatifisme.
     (diakses tanggal : 14 Oktober 2012)

_______.(2012).”Rene Descartes”.http://id.wikipedia.org/wiki/Rene_Descartes.
     (diakses tanggal : 13 Oktober 2012)