Sebelumnya
kita telah berbicara tentang adab dalam berfilsafat, salah satunya adalah sopan
dan santun terhadap ruang dan waktu. Kita harus dapat menghargai ruang dan
waktu dalam berfilsafat. Bagaikan waktu yang tak pernah berhenti, filsafat itu
hidup sampai tak ada lagi manusia yang hidup. Selama masih ada manusia yang
hidup filsafat akan terus hidup, dan selama manusia manusia melakukan olah
pikir. Manusia hidup membutuhkan olah pikir, berpikir untuk kehidupan dan
akhirat. Orang yang tak percaya adanya Tuhan sekalipun.
Adab filsafat juga menyebutkan bahwa kita
diminta untuk menghidupkan filsafat kita sendiri, tidak hanya menerima dari
orang lain. Namun tidak berarti kita tidak boleh merujuk dari filsafat kita
dari orang lain. Kita memerlukan pikiran-pikiran para filsuf terdahulu untuk
memperkuat gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran kita dalam berfilsafat. Kita dapat merefer
pikiran kita dari pikran filsuf terdahulu dan merelevansikannya dengan
pengalaman hidup kita, sedalam-dalamnya (intensif) dan seluas-luasnya
(ektensif).
Immanuel Kant salah satu filsuf
Jerman mengelompokkan waktu menjadi tiga yaitu, waktu yang berurutan,
berkelanjutan dan berkesatuan tidak terpisah. Manusia hidup memerlukan waktu,
waktu manusia hidup berurutan dari kecil, remaja, dan lanjut usia. Sebelum
lanjut usia seseorang pastilah sebelumnya melewati fase dewasa, sebelum dewasa
melewati remaja begitu seterusnya. Sehingga kita hidup memerlukan waktu yang
berurutan dan berkelanjutan, kecil ke remaja dan seterusnya.
Filsafat ada bermacam-macam
bergantung pada objeknya. Misalnya filsafat alam. Filsafat yang berisi tentang
pertanyaan-pertanyaan atau pikiran tentang alam. Filsafat guru matematika
berkaitan dengan guru matematika, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru,
bagaimana ia mengajar, dan seterusnya. Guru matematika merupakan objek
filsafat.
Orang yang berilmu
dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan dan santun terhadap yang
ada dan yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika. Santun itu berarti
mengerti, menghayati, memahami kamudian merefleksikan.
Objek dalam berfilsafat dapat berada
dalam pikiran atau di luar pikiran kita. Objek yang dapat dilihat, dipegang dan
didengar merupakan objek yang berada di luar pikiran. Sedangkan objek yang
berada di dalam pikiran adalah apabila di saat kita memejamkan mata kita
memikirkan sesuatu maka objek filsafat tersebut beradadi dalam pikiran.
Aristoteles merupakan filsuf yang
beraliran realism yang melihat objek di luar pikiran. Ia
terlebih dahulu memandang yang konkrit, bermula dari mengumpulkan fakta-fakta
yang ada kemudian disusun menurut ragam dan jenis atau sifatnya dalam suatu
sistem setelah itu ia meninjaunya kembali dan disangkutpautkan satu sama lain.
Sedangkan gurunya Plato beraliran idealism yang melihat objek berada di dalam
pikiran Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani
dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar.
Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari
idea adalah arche yang
merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya
kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
Dalam
berfilsafat kita dapat menembus ruang dan waktu, yang dimaksud dengan menembus
ruang dan waktu adalah subjek dari filsafat. Pikiran kita
merupakan ruang dalam berfilsafat. Ruang merupakan wadah yang berisi, isi
pikiran kita terdapat ada dan yang mungkin ada. Untuk mengetahui ruang kita
harus mengetahui waktu dan sebaliknya waktu juga memerlukan ruang.
Sebenar-benarnya ruang dan waktu adalah dalam pikiran kita.
Menembus ruang dan
waktu itu tergantung pada apa yang dimaksud apakah materialnya, formalnya,
normatifnya atau spiritualnya. Contohnya seorang dosen, namanya sampai pada
meja menteri, maka secara formal telah menembus ruang dan waktu. Tidak hanya
manusia saja yang dapat menembus ruang dan waktu benda mati misalnya batu pun
dapat menembus ruang dan waktu, karena batu tidak dapat terbebas dari hukum
perubahan menembus ruang dan waktu, batu juga menagalami hari senin,selasa dan
seterusnya. Menembus ruang dan waktu merupakan hal yang berdimensi dan
mengikuti yang ada dan yang mungkin ada. Manusia secara material, formal
tidaklah memiliki hal yang sama.
Menembus ruang dan
waktu dilakukan dengan menggunakan metode yang ada dalam pikiran subyeknya,
contohnya adalah bagaimana sebuah batu permata dipakai oleh seseorang yang
masuk ke istana, sehingga batu tersebut telah menembus ruang dan waktu
metodenya adalah dengan menempel pada tangan seseorang.
Semua yang tidak dapat
dipikirkan, dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia tinggal di rumah
epoke, sehingga semua yang tidak dipikirkan oleh manusia berarti telah
dimasukkan pada rumah epoke.Dalam berfilsafat kita harus
menempatkan spiritual pada sistem yang paling atas, sebagai dasar dan pedoman
kita dalam melakukan setiap hal.
Jangan sampai pikiran-pikiran kita melampaui batas spiritual kita, jika akan menuju ke sana buanglah pikiran-pikiran itu ke dalam rumah epoke.
Jangan sampai pikiran-pikiran kita melampaui batas spiritual kita, jika akan menuju ke sana buanglah pikiran-pikiran itu ke dalam rumah epoke.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar