Minggu, 16 Desember 2012

MENEMBUS RUANG DAN WAKTU


                                                                                 
            Sebelumnya kita telah berbicara tentang adab dalam berfilsafat, salah satunya adalah sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Kita harus dapat menghargai ruang dan waktu dalam berfilsafat. Bagaikan waktu yang tak pernah berhenti, filsafat itu hidup sampai tak ada lagi manusia yang hidup. Selama masih ada manusia yang hidup filsafat akan terus hidup, dan selama manusia manusia melakukan olah pikir. Manusia hidup membutuhkan olah pikir, berpikir untuk kehidupan dan akhirat. Orang yang tak percaya adanya Tuhan sekalipun.
      Adab filsafat juga menyebutkan bahwa kita diminta untuk menghidupkan filsafat kita sendiri, tidak hanya menerima dari orang lain. Namun tidak berarti kita tidak boleh merujuk dari filsafat kita dari orang lain. Kita memerlukan pikiran-pikiran para filsuf terdahulu untuk memperkuat gagasan-gagasan atau pikiran-pikiran kita dalam berfilsafat. Kita dapat merefer pikiran kita dari pikran filsuf terdahulu dan merelevansikannya dengan pengalaman hidup kita, sedalam-dalamnya (intensif) dan seluas-luasnya (ektensif).
            Immanuel Kant salah satu filsuf Jerman mengelompokkan waktu menjadi tiga yaitu, waktu yang berurutan, berkelanjutan dan berkesatuan tidak terpisah. Manusia hidup memerlukan waktu, waktu manusia hidup berurutan dari kecil, remaja, dan lanjut usia. Sebelum lanjut usia seseorang pastilah sebelumnya melewati fase dewasa, sebelum dewasa melewati remaja begitu seterusnya. Sehingga kita hidup memerlukan waktu yang berurutan dan berkelanjutan, kecil ke remaja dan seterusnya.
            Filsafat ada bermacam-macam bergantung pada objeknya. Misalnya filsafat alam. Filsafat yang berisi tentang pertanyaan-pertanyaan atau pikiran tentang alam. Filsafat guru matematika berkaitan dengan guru matematika, apa yang harus dilakukan oleh seorang guru, bagaimana ia mengajar, dan seterusnya. Guru matematika merupakan objek filsafat.
Orang yang berilmu dalam pendidikan matematika adalah orang yang sopan dan santun terhadap yang ada dan yang mungkin ada di dalam pendidikan matematika. Santun itu berarti mengerti, menghayati, memahami kamudian merefleksikan.
            Objek dalam berfilsafat dapat berada dalam pikiran atau di luar pikiran kita. Objek yang dapat dilihat, dipegang dan didengar merupakan objek yang berada di luar pikiran. Sedangkan objek yang berada di dalam pikiran adalah apabila di saat kita memejamkan mata kita memikirkan sesuatu maka objek filsafat tersebut beradadi dalam pikiran.
      Aristoteles merupakan filsuf yang beraliran realism yang melihat objek di luar pikiran. Ia terlebih dahulu memandang yang konkrit, bermula dari mengumpulkan fakta-fakta yang ada kemudian disusun menurut ragam dan jenis atau sifatnya dalam suatu sistem setelah itu ia meninjaunya kembali dan disangkutpautkan satu sama lain. Sedangkan gurunya Plato beraliran idealism yang melihat objek berada di dalam pikiran Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan.
            Dalam berfilsafat kita dapat menembus ruang dan waktu, yang dimaksud dengan menembus ruang dan waktu adalah subjek dari filsafat. Pikiran kita merupakan ruang dalam berfilsafat. Ruang merupakan wadah yang berisi, isi pikiran kita terdapat ada dan yang mungkin ada. Untuk mengetahui ruang kita harus mengetahui waktu dan sebaliknya waktu juga memerlukan ruang. Sebenar-benarnya ruang dan waktu adalah dalam pikiran kita.
Menembus ruang dan waktu itu tergantung pada apa yang dimaksud apakah materialnya, formalnya, normatifnya atau spiritualnya. Contohnya seorang dosen, namanya sampai pada meja menteri, maka secara formal telah menembus ruang dan waktu. Tidak hanya manusia saja yang dapat menembus ruang dan waktu benda mati misalnya batu pun dapat menembus ruang dan waktu, karena batu tidak dapat terbebas dari hukum perubahan menembus ruang dan waktu, batu juga menagalami hari senin,selasa dan seterusnya. Menembus ruang dan waktu merupakan hal yang berdimensi dan mengikuti yang ada dan yang mungkin ada. Manusia secara material, formal tidaklah memiliki hal yang sama. 
Menembus ruang dan waktu dilakukan dengan menggunakan metode yang ada dalam pikiran subyeknya, contohnya adalah bagaimana sebuah batu permata dipakai oleh seseorang yang masuk ke istana, sehingga batu tersebut telah menembus ruang dan waktu metodenya adalah dengan menempel pada tangan seseorang.
Semua yang tidak dapat dipikirkan, dan tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia tinggal di rumah epoke, sehingga semua yang tidak dipikirkan oleh manusia berarti telah dimasukkan pada rumah epoke.Dalam berfilsafat kita harus menempatkan spiritual pada sistem yang paling atas, sebagai dasar dan pedoman kita dalam melakukan setiap hal.
Jangan sampai pikiran-pikiran kita melampaui batas spiritual kita, jika akan menuju ke sana buanglah pikiran-pikiran itu ke dalam rumah epoke.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar