Mitos sesuatu yang sering tidak
asing oleh telinga kita. Lalu apakah mitos itu? Mitos merupakan cerita dengan
latar masa lampau yang berisi tentang penafsiran alam semesta dan makhluk yang
hidup di dalamnya serta dianggap benar-benar terjadi oleh yang bercerita
tersebut. Banyak orang tidak mengerti makna dari mitos tersebut, tapi banyak
orang melakukan itu.
Pada dasarnya anak
melakukan sesuatu dengan mitos, mereka tidak memikirkan untuk apa dan akan
bagaimana jika anak melakukan sesuatu. Mereka hanya melakukan apa yang ingin
mereka lakukan, misalnya seorang anak yang berlari ke jalan raya tanpa melihat
kanan dan kiri, meniru orang sekitarnya, entah itu baik atau buruk. Dari penggambaran
tersebut, mitos di sini berkaitan erat dengan intuisi. Kita tahu bahwa anak
dalam hal berpikir hanya menggunakan intuisi. Intuisi merupakan kemampuan
memahami sesuatu tanpa adanya penalaran intelektual yang tinggi. Dalam
berfilsafat keadaan dimana sesuatu tidak dapat dilihat dan diraba tetapi bisa
dipikirkan disebut sebagai ranah noumena.
Mitos dapat
ditemukan dalam pembelajaran matematika, misalnya seorang guru matematika yang
melakukan pembelajaran di kelas, ia hanya menerangkan ceramah di depan tanpa
memberikan makna atau tujuan pembelajaran yang diajarkan. Misalnya pada teorema
Pythagoras, guru hanya memberikan materi tentang teorema tersebut, tanpa
memberikan pemaknaannya atau tidak memberikan ruang intuisi anak, maka anak
akan sulit untuk langsung menerima hal tersebut. Padahal proses pembelajaran
akan lebih bermakna dengan berpusat ke siswa. Di mana siswa dapat turut
membangun ilmu pengetahuan mereka sendiri. Dengan begitu siswa akan dapat lebih
memahami dan mengerti tentang materi tersebut, dan diharapkan dapat
menghilangkan kesan sulit dan menyeramkan terhadap matematika.
Mitos bagi orang
awam identik dengan hal-hal yang mistis makhluk gaib dan sejenisnya. Tidak
dipungkiri hal-hal mistis dan makhluk gaib itu memang benar adanya. Meskipun itu
tidak dapat dinalarkan secara rasional, tapi itu memang ada. Begitupun dengan
kepercayaan kita, Tuhan kita tidak dapat melihat, mendengar dan meraba namun
kita yakin di hati kita bahwa Tuhan itu ada. Dengan intuisi tersebut kita yakin
bahwa isi dunia dan seluruh jagat raya ini adalah kuasa-Nya.
Begitu pula dengan matematika, sebagai calon
guru matematika kita harus memperhatikan intuisi anak dalam pembelajaran
matematika. Dengan begitu diharapkan anak setidaknya menghilangkan kesan sulit
dan lebih tertarik pada matematika, sehingga anak akan dapat memahami
pembelajaran matematika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar