REFLEKSI 3
Pengenalan Aliran Filsafat
Filsafat
memiliki ruang lingkup yang luas dan tiap orang memiliki sudut pandang
tersendiri dalam melihat filsafat. Sehingga lahirlah aliran-aliran filsafat
dengan berbagai pandangan. Aliran-aliran ini ada berdasarkan objeknya. Misalnya
benda-benda alam, maka kita dapat menyebutnya dengan filsafat alam atau sesuai
dengan tokohnya, maka kita dapat menyebut aliran filsafat tersebut dengan nama
tokoh atau pokok pikirannya. Berikut ini beberapa aliran –aliran filsafat
berdasarkan tokoh-tokohnya beserta gagasan-gagasan mereka yang terkenal:
1.
Hegealisme
George Wilhelm Friedrich Hegel anak
seorang romantisisme yang dilahirkan di Stuggart pada tahun 1770, dan mulai
belajar teologi di Tubingen pada usia delapan belas tahun. Pada tahun 1818,
Hegel diangkat menjadi seorang profesor di Berlin. Dan pada thaun 1813, beliau
meninggal karena penyakit kolera, setelah ‘Hegelianisme’ berhasil mendapatkan
pengikut yang sangat besar di hampir semua universitas di Jerman.
Hegel menggunakan istilah ‘ruh
dunia,’ tapi dalam suatu pengertian baru. Ketika Hegel berbicara tentang ‘ruh
dunia’ atau ‘akal dunia,’ yang dimaksudkannya adalah seluruh perkataan manusia,
sebab hanya manusia yang mempunyai ‘ruh.’ Dalam pengertian ini, dia dapat
membicarakan tentang kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah.
Filsafat
Hegel mengajarkan kita untuk berpikir secara produktif. Hegel meyakini bahwa
dari kesadaran manusia berubah, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Karena itu tidak ada kebenaran yang abadi, tidak ada akal yang kekal.
Satu-satunya titik pasti yang dapat dijadika pegangan bagi filsafat adalah
sejarah itu sendiri.
2.
Plato
(idealism)
Tokoh aliran idealisme adalah Plato
(427-374 SM), murid Sokrates. Aliran idealisme merupakan suatu aliran ilmu
filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita adalah gambaran asli yang
semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran asli (cita)
dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa
dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang
serta menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau
tidak mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak
dikategorikan idea.
Prinsipnya, aliran idealisme mendasari
semua yang ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan
lapangan rohani dan bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak
dan tergambar. Sedangkan ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang
paling akhir dari idea adalah arche yang merupakan tempat kembali
kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan, arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak
mengalami perubahan.
3.
Aritoteles (Realisme)
Aristoteles sependapat dengan gurunya
Plato, yaitu tujuan terakhir daripada filosofi adalah pengetahuan tentang
wujud/adanya dan yang umum. Dia juga mempunyai keyakinan tentang kebenaran yang
sebenarnya hanya dapat dicapai dengan jelas pengertian, bagaimana memikirkan
adanya itu? Menurut Aristoteles adanya itu tidak dapat diketahui dari materi
benda belaka, tidak pula dari pemikiran yang bersifat umum semata. Seperti
pendapat Plato tentang adanya itu terletak dalam barang satu-satunya, selama
barang tersebut ditentukan oleh yang umum. Pandangannya juga yang realis dari
pandanganan Plato yang selalu didasarkan pada yang abstrak. Ini semua
disebabkan dari pendidikannya diwaktu kecil yang senantiasa mengharapkan adanya
bukti dan kenyataan. Ia terlebih dahulu memandang yang konkrit, bermula dari
mengumpulkan fakta-fakta yang ada kemudian disusun menurut ragam dan jenis atau
sifatnya dalam suatu sistem setelah itu ia meninjaunya kembali dan
disangkutpautkan satu sama lain.
4.
Socrates
Filsafat dalam periode ini ditandai
oleh ajarannya yang "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf
sebelumnya, mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam semesta sedangkan
Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia di atas bumi. Socrates
memulai filsafatnya dengan bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan
kehidupan kongkret. Menurut Socrates tidak benar bahwa yang baik itu baik bagi
warga negara Athena dan lain lagi bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai
nilai yang sama bagi semua manusia, dan harus dijunjung tinggi oleh semua
orang. Pendiriannnya yang terkenal adalah pandangannya yang menyatakan bahwa
keutamaan (arete) adalah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut
Intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yang
berlaku bagi semua manusia. Sedangkan dalam perkembangan ilmu pengetahuan
Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.
5.
Monisme
Monisme
(monism) berasal
dari kata Yunani yaitu monos (sendiri, tunggal) secara istilah monisme adalah suatu
paham yang berpendapat bahwa unsur pokok dari segala sesuatu adalah unsur yang
bersifat
tunggal/ Esa. Unsur dasariah ini bisa berupa materi, pikiran, Allah, energi
dll. Bagi kaum materialis unsur itu adalah materi, sedang
bagi kaum idealis unsur itu roh atau ide.[21] Orang yang mula-mula menggunakan terminologi monisme
adalah Christian Wolff (1679-1754).
Dalam aliran ini tidak dibedakan antara pikiran dan zat. Mereka hanya berbeda
dalam gejala disebabkan proses yang berlainan namun mempunyai subtansi yang
sama. Ibarat zat dan energi dalam teori relativitas Enstein,
energi hanya merupakan bentuk lain dari zat. Atau
dengan kata lain bahwa aliran monisme menyatakan bahwa hanya ada satu kenyataan
yang fundamental.
6.
Dualisme
Dualisme adalah konsep filsafat yang menyatakan
ada dua substansi. Dalam pandangan tentang hubungan antara jiwa dan raga,
dualisme mengklaim bahwa fenomena mental adalah entitas non-fisik.Versi dari
dualisme yang dikenal secara umum diterapkan oleh René Descartes (1641),
yang berpendapat bahwa pikiran adalah substansi nonfisik. Descartes adalah yang
pertama kali mengidentifikasi dengan jelas pikiran dengan kesadaran dan membedakannya
dengan otak, sebagai tempat kecerdasan. Sehingga, dia adalah yang pertama
merumuskan permasalahan jiwa-raga dalam bentuknya yang ada sekarang.
7.
Pluralism
Pluralisme (Pluralism)
berasal dari kata Pluralis (jamak).
Aliran ini menyatakan bahwa realitas tidak terdiri dari satu substansi atau dua
substansi tetapi banyak substansi yang bersifat independen satu sama lain.
Sebagai konsekuensinya alam semesta pada dasarnya tidak memiliki kesatuan,
kontinuitas, harmonis dan tatanan yang koheren, rasional, fundamental.
Didalamnya hanya terdapat pelbagi jenis tingkatan dan dimensi yang tidak dapat
diredusir. Pandangan demikian mencangkup puluhan teori, beberapa diantaranya
teori para filosuf yunani kuno yang menganggap kenyataan terdiri dari udara,
tanah, api dan air. Dari
pemahaman diatas dapat dikemukakan bahwa aliran ini tidak mengakui adanya satu
substansi atau dua substansi melainkan banyak substansi, karena menurutnya
manusia tidak hanya terdiri dari jasmani dan
rohani tetapi juga tersusun dari api, tanah dan udara yang merupakan unsur
substansial dari segala wujud
8.
Determinisme
Determinisme, yaitu aliran yang
mengajarkan bahwa kemauan manusia itu tidak merdeka dalam mengambil
putusan-putusan yang penting, tetapi sudah terpasti lebih dahulu.
Manusia
yang hobinya suka menentukan disebut determinis, politikus dan pemimpin yang
otoriter termasuk determinis. Seseorang menjadi seorang yang determinis jika ia
mengambil keputusan penting dan diterima oleh orang lain. Yang benar yang
berkuasa.
Kodrat
manusia adalah terpilih dan memilih, manusia itu lemah dan tidak sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar