Pada
perkuliahan terakhir ini, Profesor Marsigit memaparkan The Iceberg Approach of
Learning Pleasure in Junior High School: Teacher Reflect. Sebelumnya ia telah
mempresentasikan hal ini pada seminar internasional di Chiang Mei pada tahun
2010 lalu. Pada tingkatan Iceberg ini memperlihatkan tingkatan pembelajaran
matematika dimana yang paling tinggi tingkatannya adalah matematika konkret,
baru dilanjutkan model konkret,model formal dan yang terakhir adalah
matematika formal. Pada pembelajaran matematika anak diperkenalkan dengan
matematika yang lebih real, di mana matematika menjadi nyata dibenak anak,
dibawa ke yang lebih kontekstual, dapat di lihat langsung, kemudian tingkat
selanjutnya dibawa ke pada model konkret degan memperlihatkan contoh berupa foto
atau gambar. baru setelah itu dibawa ke bentuk yang lebih formal, dengan
catatan anak sudah mencapai kemampuan formal.
Hermeneutika
dapat digunakan untuk semua dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya untuk
filsafat. ia memiliki unsur dasar lurus dan melingkar. Di mana lurus
berarti tidak melakukan hal yag sama karena bergantung pada ruang dan
waktu. Sulit dan mudahnya suatu masalah kita pandang sebagai kesadaran,
manusia memiliki perbedaan dalam menembus ruang dan waktu. Karena ruang dan
waktu berdimensi. kesadaran manusia yang berbeda tiap individu menjadikan
perbedaan pula pada sudut pandang seseorang terhadap suatu masalah tersebut.
Kesadaran antara astronot dan presiden berbeda karena memiliki ruang dan waktu
yang berbeda. Melingkar artinya berinteraksi, antara guru dan murid harus
ada interaksi. Hermeneutika terdiri dari yang ada dan mungkin ada. Terdapat
aktifitas rutin dalam hermeneutika di mana mengadakan yang mungkin ada,
membisakan yang mungkin bisa seperti pengalaman,konsep dan lain-lain.
Saat ini
kaum absolutis masih menguasai dunia pendidikan anak-anak, yaitu kaum formal,
kaum logicism,Platonism, ilmu-ilmu basic science. Pure mathematics masih banyak
menguasai pembelajaran di sekolah. Memang kaum ini sangat penting namun harus
tetap bijaksana menempatkan di ruang dan waktunya yang tepat. Bukan malah
menempatkan mereka pada anak-anak yang masih menggunakan intuisi dalam
pembelajaran. Jika anak telah diajarkan pure mathematics, ini akan berdampak
hilangnya intuisi mereka dan hilangnya hati nurani mereka. Mereka bukanlah empty vessel yang dapat kita isi
seenaknya saja. Mereka bukanlah objek pembelajaran di mana mereka hanya
mendengarkan penjelasan tanpa adanya kesempatan untuk mereka membangun konsep
dan melatih proses berpikir mereka. Pure mathematics berbeda dengan
matematika di sekolah.
Sebagai
calon guru matematika kita harus dapat merebut kembali hak anak untuk
menggunakan intuisinya dalam pembelajaran dan mengembangkan pembelajaran
inovatif yang menghargai anak untuk belajar menurut intuisinya masing-masing. Kita
dituntut untuk lebih kreatif dan kritis lagi dalam proses pembelajaran di
kelas. Pendekatan realistik ataupun pendekatan kontekstual dirasa dapat
membantu guru untuk menumbuhkan intuisi mereka dalam proses pembelajaran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar