Selasa, 01 Januari 2013

Refleksi 17 Desember 2012


Pada pertemuan kali ini seperti biasa mahasiswa diikutsertakan dalam berfilsafat. Yaitu mahasiswa diminta untuk memberikan pertanyaan, di mana pertanyaaan-pertanyaan ini merupakan salah satu olah pikir sebagaimana yang dimaksud dari filsafat. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diantaranya:
Ø  Apakah hakekat angin?
Objek berfilsafat berdimensi, yang paling primitive adalah intuisi. Intuisi adalah hal yang tidak diketahui oleh seseorang kapan dia mengetahui hal tersebut. Misalnya kita tidak mengetahui kapan kita tahu rasa itu enak, cantik, bagus, jelek dan sebagainya. Intuisi tidak dapat didefinisikan dengan tepat. Dimensi dalam filsafat adalah secara formal,normatif, material dan spiritual. Angin termasuk pengertian intuitif empiris karena angin hanya memiliki bentuk formal yaitu angin topan,rebut, putting beliung dan lain-lain, ia tiadak memiliki bentuk normative ataupun spiritual sehingga ia hanya terbatas pada pengetahuan formal saja.
Ø  Apakah hakekat perceraian?
Seperti disebutkan sebelumnya tentang objek filsafat yang berdimensi bentuk formal dari perceraian berada dalam Undang-undang Perkawinan, bentuk normatifnya yaitu tentang baik-buruk. Dalam kitab suci juga menjelaskan tentang perceraian sehingga perceraian memuat bentuk spiritual.
Ø  Manakah yang harus didahulukan dalam sebuah rumah tangga, memberikan bantuan kepada pasangannya atau orang tua terlebih dahulu?
Komunikasi adalah hal yang didahulukan. Setiap orang di dunia ini memerlukan komunikasi dalam kehidupannya. Oleh karena itu dengan adanya komunikasi yang baik, tidak peduli yang mana yang didahulukan. Menurut saya itu bergantung pada ruang dan waktu.
Ø  Bagaimana cara mengatasi kekalahan agar tidak semakin terpuruk?
Manusia harus selalu berdoa dan berusaha. Agar tidak terpuruk dalam berfilsafat, mahasiswa hendaknya rajin membaca elegi dan memahaminya dengan memberikan komentar-komentar. Berfilsafat tidak hanya mengejar nilai tetapi pada banyaknya membaca elegi dan membuat komentar.
Ø  Bagaimana cara menumbuhkan semangat ketika gagal?
Komunikasi juga patut dikembangkan agar mampu menumbuhkan semangat. Dan ia juga harus menyadari bahwa di luar sana masih banyak manusia yang kurang beruntung dari kita, namun mereka tetap bersyukur terhadap apa yang mereka dapatkan. Dan mereka tetap positif menghadapi kehidupan, untuk menumbuhkan semangat jangan terus kita melihat ke atas kita perlu melihat ke bawah untuk kembali bersyukur terhadap apa yang kita dapat.
Ø  Mengapa ada pro dan kontra dan apa penyebabnya?
Hal ini terjadi karena merupakan ciptaan Tuhan bahwa pasti dalam hidup ada pro dan kontra. Pro dan kontra dalam hati adalah godaan setan. Pertanyaan selanjutnya adalah hakekat dari perubahan. Perubahan merupakan hal yang dipelajari secara intuisi oleh manusia. Manusia tidak memerlukan definisi perubahan.
Ø  Apa yang disebut dewa?
Dalam adab berfilsafat disebutkan adalah ruang dan waktu, maka yang disebut dengan dewa juga bergantung pada ruang dan waktu, setiap yang ada dan yang mungkin ada dapat menjadi dewa. 
Ø  Bagaimana cara membedakan hasil berpikir filsafat dan hasil telaah?
 Hasil berpikir filsafat dan telaah dibedakan berdasarkan kerangkanya. Berfilsafat itu ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Berpikir filsafat adalah pikiran para filsuf. Berpikir filsafat juga intensif dan ekstensif yang menyebabkan memiliki sudut pandang yang banyak dalam berfilsafat.
Ø  Mengapa banyak gejala alam yang semakin kompleks.
Bagi para orang tua, gejala alam justru semakin sederhana karena sudah mengalami lupa/pikun. Bagi manusia yang masih remaja, kekompleksan merupakan bukti bahwa makin banyak yang ia mengerti.
Ø  Apakah hal-hal yang ada dan yang mungkin ada dapat dikatakan sebagai ciptaan Tuhan.
Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada adalah sebagian dari ciptaan Tuhan. Masih banyak hal lain yang merupakan ciptaan Tuhan yang belum diketahui oleh manusia. Manusia tidak boleh beranggapan bahwa ia mengetahui segalanya karena manusia pasti tidak akan mampu mengetahui segala ciptaan Tuhan. Manusia jangan hanya berkutat dan sibuk pada ciptaannya sendiri tetapi juga pada hal-hal lain yang ada. Hal-hal yang ada dan yang mungkin ada harus selalu disyukuri dan manusia harus selalu memohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat.

Semoga dari beberapa pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab oleh Bapak Prof.Dr.Marsigit dapat memberikan pengalaman pembelajaran yang berharga dan dapat menambah wawasan kita tentang berfilsafat. Terimakasih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar