Minggu, 04 November 2012

REFLEKSI ADAB BERFILSAFAT


REFLEKSI
ADAB BERFILSAFAT

Filsafat adalah olah pikir. Olah pikir  yang refleksif, dimana seseorang  merefleksikan atau mengungkapkan apa yang telah dilakukan sebelumnya.  Misalnya seorang mahasiswa yang menuliskan kembali apa yang telah didapat pada saat perkuliahan.
Filsafat dapat diletakkan di mana saja, ia merupakan ilmu yang multimuka, di mana bisa diartikan ia jauh atau dekat dengan kita, ringan atau berat, dapat menghibur ataupun menjadi bahaya yang  mengancam kita. Filsafat dapat dihubungkan dengan apapun,  karena filsafat merupakan olah pikir maka kita dapat memikirkan apapun, misalkan filsafat manusia, filsafat hidup,filsafat olahraga, filsafat seni,  filsafat Tuhan. Walaupun terbatas kita dapat memikirkan apapun, filsafat yang terbatas yaitu filsafat Tuhan.
Berbicara tentang filsafat, maka kita belajar tentang tata cara atau adab. Adab merupakan sesuatu yang harus ada pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Seseorang yang memperhatikan tata cara disebut orang yang beradab, sedangkan sebaliknya orang yang tida memperhatikan disebut biadab. Dalam kehidupan sekitar kita, adab seseorang merupakan acuan penilaian baik atau buruk seseorang. Oleh karena itu adab menjadi hal yang paling harus diperhatikan dalam tindakan seseorang.
Filsafat merupakan olah pikir, dalam olah pikir ini terdapat tata cara atau adab dalam berpikir, diantaranya yaitu:
Ø  Kedudukan filsafat dikaitkan dengn spiritual atau hubungan antara berdoa dengan pikiran
Derajat olah pikir ini tinggi, meskipun tinggi seseorang yang berfilsafat tidak boleh melebihi spiritual. Spiritual merupakan keyakinan diri kita terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu seseorang yang berfilsafat harus dilandasi oleh spiritual yang kuat apabila pikiran seseorang filsafat sudah mulai melebihi batas spiritual. Untuk bertemu tuhan tidak cukup hanya dengan dipikirkan, tanpa adanya keyakinan dalam diri. Tuhan ada dalam hati dalam keyakinan. Oleh karena itu dalam berfilsafat harus dilandasi dengan doa.
Ø  Filsafat itu hidup
Filsafat itu hidup, dia tidak akan pernah mati. Misalnya cinta, cinta seseorang tidak akan pernah berhenti akan terus hidup. Seperti halnya dua orang yang sudah lanjut usia, cinta mereka masihlah hidup, cinta tidak hanya dimonopoli oleh kaum muda. Cinta ini akan terus hidup meskipun sudah terpisahkan oleh ajal, seperti seorang tokoh nasional bapak Habibi dengan  ibu Ainun.
Seperti halnya cinta, budaya, seni juga hidup, apalagi keyakinan terhadap tuhan Yang Maha Esa.
Filsafat itu hidup maka dalam berfilsafat kita menggunakan metode hidup. Misalkan hidup sehat dan tidak sehat, bahagia dan tidak bahagia. Begitupun dengan filsafat, terdapat filsafat sehat, filsafat tidak sehat. Seseorang agar dapat berfilsafat sehat, maka mereka harus memperhatikan tata cara atau adab berfilsafat tersebut. berdab yaitu berusaha mengenal tata cara.
Metode hidup dalam berfilsafat berkaitan dengan alat dan objek filsafat. Alat yang digunakan dalam berfilsafat adalah bahasa filsafat yaitu bahasa analogi bahasa analogi lebih tinggi dari bahasa kiasan. Sedangkan objek filsafat adalah yang ada dan mungkin ada.
Kita dapat menemukan ‘MUNGKIN ADA’ di sekitar kita. Benda-benda yang ‘MUNGKIN ADA’ ada disekitar kita tetapi tidak menyadarinya. Kita belum mengetahuinya. Misalnya nama cucu bapak Marsigit, sebelum diberitahu kita tidak mengetahuinya. Maka nama tersebut merupakan ‘MUNGKIN ADA’. Setelah diberitahu maka kita akan mengetahuinya maka nama tersebut menjadi ‘ADA’. Objek ‘ADA’ tersbut sudah ada dalam pikiran kita, kita mengetahuinya.
Ø  Membersihkan diri dari pikiran yang mengganggu.
Seperti halnya beribadah pada umat islam, saat hendak beribadah salat yaitu bersuci. Baik bersuci dari hadats maupun membersihkan hati. Dalam berfilsafat itu disebut pure, tidak prejudis, tidak ada kebencian. Seorang berfilsafat memerlukan kejernihan dalam berolah pikir.
Metode hidup atau berfilsafat yaitu terjemah dan diterjemahkan (hermeneutika), berinteraksi yang refleksif. Berfilsafat merupakan interaksi olah pikir yang refleksif.Hermeneutika berasal dari seorang Dewa Yunani, yaitu dewa  Hermen,penduduk yunani menganggap  bahwa ia mendapat bisikan dari tuhan, pemberi pesan.  
Tiap hal di dunia ini adalah interaksi dengan sekitarnya.  Dalam berinteraksi pastilah terdapat adab. Adab yang sehat dalam filsafat adalah hidup yang harmoni atau dapat dikatakan seimbang. missal seseorang yang bekerja, ia dapat mengatur pengeluaran sesuai dengan apa yang didapatnya. Lain dengan orang yang tidak dapat menempatkan pengeluaran yang lebih besar dari pendapatannya. Ia merupakan orang yang tidak seimbang atau tidak harmoni. Seseorang yang hidup harmoni identik dengan hidup bahagia, sedangkan sebaliknya tidak harmoni maka tidak bahagia.
Ø  Menghidupkan filsafat diri sendiri, tidak hanya menerima dari seseorang.
Kita harus dapat menghidupkan filsafat diri kita sendiri dengan cara berikhtiar. Membaca dan merefleksikannya atau berkomentar dari apa yang telah kita baca.
Berfilsafat dimulai dengan kekaguman terhadap hal-hal yang kecil, sepele. Misalanya saat kita memperhatikan semut, bagaimana penderitaan semut, atau bagaimana semut bercinta, bagaimana semut tidur dan sebagainya.
Berfilsafat sangat bertentangan dengan bisnis, filsafat tidak mementingkan keuntungan. Apapun yang dipikirkan tidak menuju suatu keuntungan seperti dalam halnya bisnis.
Ø  Sopan santun terhadap ruang dan waktu
Menghargai, menyadari lingkungan kita.
Dengan tata cara yang telah dijabarkan tersebut tiap orang dapat berfilsafat. Kita dapat berfilsafat pada apapun, dimanapun dan sampai kapanpun. Sesuatu yang telah kita lakukan harus kita syukuri karena itu merupakan takdir kita. Dari takdir yang telah terjadi pada diri kita dapat kita jadikan bahan refleksi, olah pikir kita terhadap diri sendiri.
Pertanyaan:
1.      Apakah pantas seorang menganggap dirinya lebih  berilmu atau tinggi ilmunya dibandingkan orang lain?
2.      Apakah kewajiban orang berilmu?
3.      Apa pendapat bapak tentang ungkapan Ali bin Abi Thalib tentang ikatlah ilmu dengan menuliskannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar