REFLEKSI
ADAB
BERFILSAFAT
Filsafat
adalah olah pikir. Olah pikir yang
refleksif, dimana seseorang merefleksikan atau mengungkapkan apa yang
telah dilakukan sebelumnya. Misalnya
seorang mahasiswa yang menuliskan kembali apa yang telah didapat pada saat
perkuliahan.
Filsafat
dapat diletakkan di mana saja, ia merupakan ilmu yang multimuka, di mana bisa
diartikan ia jauh atau dekat dengan kita, ringan atau berat, dapat menghibur
ataupun menjadi bahaya yang mengancam
kita. Filsafat dapat dihubungkan dengan apapun,
karena filsafat merupakan olah pikir maka kita dapat memikirkan apapun,
misalkan filsafat manusia, filsafat hidup,filsafat olahraga, filsafat
seni, filsafat Tuhan. Walaupun terbatas
kita dapat memikirkan apapun, filsafat yang terbatas yaitu filsafat Tuhan.
Berbicara
tentang filsafat, maka kita belajar tentang tata cara atau adab. Adab merupakan
sesuatu yang harus ada pada diri seseorang untuk melakukan sesuatu. Seseorang
yang memperhatikan tata cara disebut orang yang beradab, sedangkan sebaliknya
orang yang tida memperhatikan disebut biadab. Dalam kehidupan sekitar kita,
adab seseorang merupakan acuan penilaian baik atau buruk seseorang. Oleh karena
itu adab menjadi hal yang paling harus diperhatikan dalam tindakan seseorang.
Filsafat
merupakan olah pikir, dalam olah pikir ini terdapat tata cara atau adab dalam
berpikir, diantaranya yaitu:
Ø Kedudukan filsafat dikaitkan
dengn spiritual atau hubungan antara berdoa dengan pikiran
Derajat
olah pikir ini tinggi, meskipun tinggi seseorang yang berfilsafat tidak boleh
melebihi spiritual. Spiritual merupakan keyakinan diri kita terhadap Tuhan Yang
Maha Esa. Oleh karena itu seseorang yang berfilsafat harus dilandasi oleh
spiritual yang kuat apabila pikiran seseorang filsafat sudah mulai melebihi
batas spiritual. Untuk bertemu tuhan tidak cukup hanya dengan dipikirkan, tanpa
adanya keyakinan dalam diri. Tuhan ada dalam hati dalam keyakinan. Oleh karena
itu dalam berfilsafat harus dilandasi dengan doa.
Ø Filsafat itu hidup
Filsafat
itu hidup, dia tidak akan pernah mati. Misalnya cinta, cinta seseorang tidak
akan pernah berhenti akan terus hidup. Seperti halnya dua orang yang sudah
lanjut usia, cinta mereka masihlah hidup, cinta tidak hanya dimonopoli oleh
kaum muda. Cinta ini akan terus hidup meskipun sudah terpisahkan oleh ajal,
seperti seorang tokoh nasional bapak Habibi dengan ibu Ainun.
Seperti
halnya cinta, budaya, seni juga hidup, apalagi keyakinan terhadap tuhan Yang
Maha Esa.
Filsafat
itu hidup maka dalam berfilsafat kita menggunakan metode hidup. Misalkan hidup
sehat dan tidak sehat, bahagia dan tidak bahagia. Begitupun dengan filsafat,
terdapat filsafat sehat, filsafat tidak sehat. Seseorang agar dapat berfilsafat
sehat, maka mereka harus memperhatikan tata cara atau adab berfilsafat
tersebut. berdab yaitu berusaha mengenal tata cara.
Metode
hidup dalam berfilsafat berkaitan dengan alat dan objek filsafat. Alat yang
digunakan dalam berfilsafat adalah bahasa filsafat yaitu bahasa analogi bahasa
analogi lebih tinggi dari bahasa kiasan. Sedangkan objek filsafat adalah yang
ada dan mungkin ada.
Kita
dapat menemukan ‘MUNGKIN ADA’ di sekitar kita. Benda-benda yang ‘MUNGKIN ADA’
ada disekitar kita tetapi tidak menyadarinya. Kita belum mengetahuinya.
Misalnya nama cucu bapak Marsigit, sebelum diberitahu kita tidak mengetahuinya.
Maka nama tersebut merupakan ‘MUNGKIN ADA’. Setelah diberitahu maka kita akan
mengetahuinya maka nama tersebut menjadi ‘ADA’. Objek ‘ADA’ tersbut sudah ada
dalam pikiran kita, kita mengetahuinya.
Ø Membersihkan diri dari pikiran
yang mengganggu.
Seperti
halnya beribadah pada umat islam, saat hendak beribadah salat yaitu bersuci.
Baik bersuci dari hadats maupun membersihkan hati. Dalam berfilsafat itu
disebut pure, tidak prejudis, tidak
ada kebencian. Seorang berfilsafat memerlukan kejernihan dalam berolah pikir.
Metode
hidup atau berfilsafat yaitu terjemah dan diterjemahkan (hermeneutika),
berinteraksi yang refleksif. Berfilsafat merupakan interaksi olah pikir yang
refleksif.Hermeneutika berasal dari seorang Dewa Yunani, yaitu dewa Hermen,penduduk yunani menganggap bahwa ia mendapat bisikan dari tuhan, pemberi
pesan.
Tiap
hal di dunia ini adalah interaksi dengan sekitarnya. Dalam berinteraksi pastilah terdapat adab.
Adab yang sehat dalam filsafat adalah hidup yang harmoni atau dapat dikatakan
seimbang. missal seseorang yang bekerja, ia dapat mengatur pengeluaran sesuai
dengan apa yang didapatnya. Lain dengan orang yang tidak dapat menempatkan
pengeluaran yang lebih besar dari pendapatannya. Ia merupakan orang yang tidak
seimbang atau tidak harmoni. Seseorang yang hidup harmoni identik dengan hidup
bahagia, sedangkan sebaliknya tidak harmoni maka tidak bahagia.
Ø Menghidupkan filsafat diri
sendiri, tidak hanya menerima dari seseorang.
Kita
harus dapat menghidupkan filsafat diri kita sendiri dengan cara berikhtiar.
Membaca dan merefleksikannya atau berkomentar dari apa yang telah kita baca.
Berfilsafat
dimulai dengan kekaguman terhadap hal-hal yang kecil, sepele. Misalanya saat
kita memperhatikan semut, bagaimana penderitaan semut, atau bagaimana semut
bercinta, bagaimana semut tidur dan sebagainya.
Berfilsafat
sangat bertentangan dengan bisnis, filsafat tidak mementingkan keuntungan.
Apapun yang dipikirkan tidak menuju suatu keuntungan seperti dalam halnya
bisnis.
Ø Sopan santun terhadap ruang dan
waktu
Menghargai, menyadari lingkungan
kita.
Dengan
tata cara yang telah dijabarkan tersebut tiap orang dapat berfilsafat. Kita
dapat berfilsafat pada apapun, dimanapun dan sampai kapanpun. Sesuatu yang
telah kita lakukan harus kita syukuri karena itu merupakan takdir kita. Dari
takdir yang telah terjadi pada diri kita dapat kita jadikan bahan refleksi,
olah pikir kita terhadap diri sendiri.
Pertanyaan:
1. Apakah pantas seorang menganggap
dirinya lebih berilmu atau tinggi
ilmunya dibandingkan orang lain?
2. Apakah kewajiban orang berilmu?
3. Apa pendapat bapak tentang
ungkapan Ali bin Abi Thalib tentang ikatlah ilmu dengan menuliskannya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar