By : Dr. Marsigit, M.A
Yogyakarta State University
Reviewed by: Rusda Fauziah
Student of Mathematics Education 2009 in Yogyakarta State University
Teori double affection adalah sebuah usaha klasik untuk menyelamatkan perhitungan Kant atas kesadaran persepsi dari apa yang telah dinyatakan sebagai inkonsistensi yang menyolok (Gram, S.M., dala Werkmeister, W.H., 1975). Kant memberikan dua jenis objek yang dapat mempengaruhi subjek: terdapat ‘hal dalam diri mereka sendiri’ yang mempengaruhi dirinya; dan ada ‘penampilan dalam diri mereka sendiri’ yang bertindak pada perasaan kita dan terlepas dari karakteristik apapun yang mengaitkan pada penerima sensor kita (Werkmeister, W.H, 1975).
Menghadapi dugaan Kant ini, Gram dalam Werkmeister (1975) mengungkapkan argumen seperti berikut:
“ Kita seharusnya mengatakan bahwa apa yang mempengaruhi perasaan kita adalah ‘sesuatu dalam hal itu sendiri’. Bagaimanapun juga, cerita ini yang mecegah kita untuk membedakan antara sebuah keadaan tentang bagaimana seseorang merasakan suatu objek dan keadaan yang cukup berbeda dimana sebuah objek mendesak sebuah pengaruh sederhana yang itu-itu saja pada tubuh perasa...Namun kita harus selalu merasakan sesuatu dibalik sebuah deskripsi, untuk mengatakan bahwa kita terpengaruh oleh ‘sesuatu dalam hal itu sendiri’ ketika kita merasakan apapun maka secara tidak langsung kita merasa bahwa beberapa objek memenuhi deskripsi tertentu...”.
Hal tersebut di atas dikemukakan untuk membantah deskripsi Kant bahwa affection adalah pengalaman dari ‘efek’ sebuah objek terhadap perlengkapan sensor kita.
Hal yang dapat kita pelajari adalah harus ada hubungan lain antara ‘sesuatu dalam diri mereka sendiri’ dan affection.
B. Research on TheEffect of Epistemic Fidelity on Teaching Decimal Numeration With Physical Materials oleh Kaye Stacey (2001)
Hasil dari penelitian ini telah sampai pada sebuah kesimpulan bahwa:
1) Terdapat beberapa perbedaan yang menolong dari contoh yang berbeda dari material fisik (LAB dan MAB),
2) Perbedaan yang paling jelas dari kedua contoh ini adalah kemampuan mereka untuk menggambarkan angka kepadatan dan LAB diketahui contoh paling unggul dalam hal ini,
3) Mengajar dengan mengunakan material fisik adalah sebuah kesulitan besar bagi banyak siswa,
4) Para siswa tidak mengerti banyaknya hubungan yang terkandung dalam MAB dan sulit untuk mengingat nama-namanya, daripada menghargai apa dibaliknya,
5) Para mahasiswa mengalami kesulitan dalam menggeneralisaskan ke angka-angka di luar contoh atas kesulitan mereka dengan volume dan perubahan dimensional yang nyata dalam persepsi mereka terhadap komponen,
6) LAB hadir untuk mempromosikan penggunaan yang lebih kaya dalam ruang kelas daripada MAB karena aksesibilitasnya yang lebih besar.
C. Penjelasan Filosofis pada Pengalaman Matematika
Dalam review teoritis dari penelitian yang dibuat oleh Stacey (2001), mengindikasikan bahwa kebenaran epistemik dari materi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kekurangan bahan-bahan material. Di sisi lain, Gram (1975) memberikan pernyataan jelas atas apa yang oleh Stacey K. disebut-sebut sebagai kebenaran epistemik, yang dia sebut double affection. Jika yang dimaksud oleh peneliti dengan kebenaran epidemik adalah kapasitas untuk menerima gambaran melalui cara yang di dalamnya kita akan terpengaruh oleh beberapa objek, permasalahan berikutnya adalah kita perlu untuk mengklarifikasinya.
Sesuai dengan hal tersebut, paling tidak ada dua persoalan (baik sosial maupun psikologis) yang mungkin akan berimbas dari LAB dan MAB, yaitu:
1) Kebingungan para siswa akan bagan pengatur dengan nilai komponen,
2) Kebingungan siswa tentang peltakan posisi dari kolom nilai.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, kita kita harus menghomati tingkat pengetahuan matematis para siswa dengan memanipulasi material fisik, dalam skema Analisis Struktural Hermenetik yang dibuat oleh Greimas. Jika perbedaan antara dua jenis persepsi tersebut masih merupakan mitos, maka kita masih dapat memperdebatkannya pada tingkat pengetahuan matematis
Tidak ada komentar:
Posting Komentar